17 Warga Yaman Telah Tewas Akibat Serangan Rudal Balistik

17 Warga Yaman Telah Tewas Akibat Serangan Rudal Balistik

17 Warga Yaman Telah Tewas Akibat Serangan Rudal Balistik – Peluru kendali (disingkat: rudal) atau misil adalah senjata roket militer yang bisa dikendalikan atau memiliki sistem pengendali otomatis untuk mencari target atau menyesuaikan arah. Sebuah serangan rudal balistik yang menyerang wilayah Marib, Yaman, telah menewaskan sebanyak 17 orang tewas, di mana salah satu diantaranya merupakan seorang anak berusia 5 tahun.

Peluru kendali pertama digunakan dalam sebuah operasi adalah peluru kendali Jerman dalam Perang Dunia II. Dilansir dari IDN Poker Versi jadul Semua korban tewas pada serangan tersebut merupakan warga sipil. Bagaimana awal ceritanya?

1. Rudal tersebut menghantam sebuah pom bensin di lingkungan Rawdha
Sebuah rudal balistik menyerang wilayah di Yaman yang menyebabkan 17 orang tewas pada hari Sabtu, 5 Juni 2021, waktu setempat.

Dilansir dari Aljazeera.com, sedikitnya 17 orang tewas dalam serangan rudal balistik yang menargetkan wilayah Marib, Yaman, dalam serangan yang dituduhkan pemerintah Yaman dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi. Menurut Sekretasris Pers Gubernur Provinsi setempat, Ali al-Ghulisi, mengatakan rudal itu menghantam sebuah pom bensin di lingkungan Rawdha. Menteri Penerangan Yaman, Moammar al-Eryani, mengatakan
serangan itu melukai sedikitnya 5 orang lainnya dan semua korban merupakan warga sipil.

Dia juga meminta PBB dan Amerika Serikat untuk mengutuk serangan itu dengan mengatakan itu merupakan kejahatan perang, sementara itu tidak ada komnetar langsung dari kelompok Houthi. Yaman telah terlibat dalam perang saudara sejak tahun 2014 lalu, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran telah menyapu sebagian besar wilayah utara dan merebut Sana’a, ibukota Yaman, dengan memaksa pemerintah Yaman yang diakui
secara internasional ke pengasingan. Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi memasuki perang pada tahun berikutnya di pihak pemerintah.

Sampai saat ini, perang telah menewaskan lebih dari 130 ribu orang dan melahirkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

2. Serangan tersebut terjadi sehari setelah utusan khusus AS mengecam Yaman mengecam pemberontak
Sebuah rudal balistik menyerang wilayah di Yaman yang menyebabkan 17 orang tewas pada hari Sabtu, 5 Juni 2021, waktu setempat.

Serangan yang terjadi hari Sabtu, 5 Juni 2021, waktu setempat ini terjadi sehari setelah utusan khusus Amerika Serikat untuk Yaman, Tim Lenderking, mengecam pemberontak dengan menuduh mereka gagal mencoba mencapai gencatan senjata yang sangat dibutuhkan. Dia mengatakan Houthi memikul tanggung jawab utama untuk menolak terlibat secara bermakna serta mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan konflik hampir 7 tahun yang telah membawa penderitaan yang tak terbayangkan bagi warga Yaman. Pernyataan Lenderking datang dalam sebuah pernyataan Jumat, 4 Juni 2021, malam waktu setempat oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat setelah kembali dari misi diplomatik Timur Tengah di Yaman yang membawanya ke Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, dan Yordania.

Dia juga mengkritik serangan baru kelompok Houthi di Provinsi Marib yang kayak minyak, benteng anti-Houthi yang dipegang oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional yang sangat penting untuk pasokan energi negara itu. Menurut Lenderking, serangan yang terjadi di Marib ini dimulai pada bulan Februari 2021 lalu di tengah dorongan diplomatik internasional dan regional untuk mengakhiri konflik, telah membuat pemberontak semakin terisolasi. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan Lenderking mengoordinasikan upayanya secara erat dengan utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, yang mengadakan pembicaraan melalui video conference pekan lalu dengan pemimpin agaman dan militer Houthi, Abdel Malek al-Houthi.

3. Para pejabat Oman telah mencoba meyakinkan para pemberontak Houthi untuk menerima gencatan senjata
Sebuah rudal balistik menyerang wilayah di Yaman yang menyebabkan 17 orang tewas pada hari Sabtu, 5 Juni 2021, waktu setempat.

Pada saat hari kejadian, para pejabat Oman yang didampingi oleh tokoh senior Houthi tiba di Sanaa untuk mencoba meyakinkan para pemberontak yang menguasai ibukota Yaman untuk menerima gencatan senjata. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir ini. Kunjungan yang dilakukan kali ini bertujuan untuk melengkapi upaya yang dilakukan di Oman serta sedang bekerja untuk memajukan pengaturan mengenai masalah kemanusiaan serta proses perdamaian.

Kunjungan dari pihak Oman sendiri dilakukan setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad bin Hamoud al-Busaidi. Pada hari Senin, 31 Mei 2021, lalu Griffiths mendesak pasukan saingan Yaman untuk menjembatani kesenjangan untuk mencapai gencatan senjata.