AS Tegaskan Rusia Adalah Pihak yang Menghalangi Perdamaian

AS Tegaskan Rusia Adalah Pihak yang Menghalangi Perdamaian

AS Tegaskan Rusia Adalah Pihak yang Menghalangi Perdamaian – Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa Rusia lebih berbahaya daripada China bagi Washington dan Eropa.  Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan Colin Kahl dalam Konferensi Militer Baltik yang diselenggarakan di Lituania. Dia mengatakan, Rusia mungkin menjadi tantangan keamanan yang lebih besar bagi AS dan Eropa dalam jangka pendek daripada China.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin menegaskan bahwa Rusia menjadi satu-satunya pihak yang menghalangi perdamaian di Ukraina Timur. Pernyataan itu disampaikan AS, Ketika Menhan AS Lloyd Austin dalam kunjungan resminya bertemu dengan Menhan Ukraina Andrii Taran di Kota Kiev, Ukraina.

Dikutip dari Reuters, Austin menjelaskan jika Ukraina harus dapat menentukan kebijakan luar negerinya sendiri tanpa ada campur tangan asing. Tidak hanya itu, ia juga meminta Rusia menghentikan segala bentuk serangan siber terhadap AS dan Negara Barat lainnya.

1. Menhan AS tuduh Rusia picu Perang Saudara Ukraina

Keterlibatan Rusia dalam Perang Saudara Ukraina memang masih diperdebatkan sampai hari ini. Namun, Aneksasi Krimea pada 2014 oleh Rusia menunjukkan bahwa pengaruh Moskow dalam gejolak di Ukraina sangat besar.

Berdasarkan pernyataan Lloyd Austin, ia tidak tanggung-tanggung menuduh Kremlin sebagai tokoh utama penyebab konflik bersenjata atau perang saudara di Ukraina Timur, seperti yang dilansir dari Reuters.

“Mari kita perjelas, bahwa Rusia memulai perang ini (Konflik Ukraina Timur) dan Rusia adalah penghalang bagi terciptanya resolusi damai,” ujar Menhan AS Lloyd Austin.

Meskipun begitu, Austin tidak memberikan keterangan atau penjelasan lebih lanjut terkait peran Rusia pada konflik tersebut.

2. Ambisi Ukraina ke NATO belum mendapat respon lanjutan dari Amerika
AS: Rusia Halangi Proses Perdamaian di Ukraina Timur

Sejak agresi militer yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina di Krimea 2014 silam, Kiev memperteguh keinginannya bergabung dengan Pakta Pertahanan NATO.

Melansir France24, ambisi itu kembali ditunjukkan pemerintah Ukraina melalui pernyataan Menteri Pertahanan Ukraina Andrii Taran dalam pertemuannya dengan Lloyd Austin. Tetapi, sayang Austin enggan berkomentar ataupun menanggapinya.

Sebelum-sebelumnya, Amerika Serikat menjadi salah satu anggota NATO yang mendukung penuh bergabungnya Ukraina, dan telah membantu militer Ukraina dengan bantuan alutsista hingga tambahan anggaran pertahanan.

3. Peringatan Rusia masih membayangi proses penerimaan Ukraina ke NATO
AS: Rusia Halangi Proses Perdamaian di Ukraina Timur

Presiden Rusia Vladimir Putin secara eksplisit pernah menyebutkan jika benang merah Rusia adalah netralitas Ukraina. Kremlin secara tegas memperingatkan NATO agar tidak menerima Ukraina sebagai anggota baru atau ancaman perang terbuka antara Rusia-NATO sulit dihindari.

Dilaporkan Reuters, menanggapi peringatan Rusia tersebut, Menhan AS Lloyd Austin menekankan negara “ketiga” tidak memiliki hak veto yang dapat menghalangi aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Walaupun Austin enggan berkomentar terkait nasib penerimanaan Ukraina ke NATO, namun ia tetap membela pandangan Kiev yang ingin mendekat ke Barat.

Ancaman perang Rusia-NATO serta rumitnya proses reformasi pertahanan Ukraina guna memenuhi standar NATO dipercaya menjadi pertimbangan yang sangat berat bagi NATO untuk menerima Ukraina dalam waktu dekat.

Dia menambahkan, Rusia adalah lawan yang terus bertekad meningkatkan pengaruhnya di tataran global dan memainkan peran yang “mengganggu” di panggung global. Dilihat dari kacamatanya, China adalah ancaman yang semakin meningkat dengan pesat sedangkan Rusia adalah masalah yang lebih besar dalam jangka pendek.

Apalagi, melihat aksi-aksi Moskwa di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan dunia maya. “Terlalu sering, Moskwa mengikis transparansi dan prediktabilitas, menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya, mendukung kelompok proksi untuk menabur kekacauan dan keraguan, merusak tatanan internasional berbasis aturan,” kata Kahl.

Dia menuturkan, AS terus memantau dengan cermat aktivitas militer Rusia di sepanjang wilayah timur NATO dan di wilayah Laut Hitam. Kahl berujar bahwa “Negeri Paman Sam” bakal berinteraksi dengan “Negeri Beruang Putih” dari posisi kekuatan kolektif.