Australia Berkomitmen Kuat Dalam Mendukung Sentralitas ASEAN

Australia Berkomitmen Kuat Dalam Mendukung Sentralitas ASEAN

Australia Berkomitmen Kuat Dalam Mendukung Sentralitas ASEAN -Sentralitas ASEAN di kawasan Indo-Pasifik merupakan salah satu prinsip yang diakui dan dihormati 18 negara di kawasan itu. Mereka setuju bahwa pengembangan kerja sama antar negara di kawasan harus sesuai dengan prinsip keterbukaan, transparansi, inklusivitas, menghormati hukum internasional, dan mengedepankan dialog.

Gagasan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi seusai Dialog Tingkat Tinggi untuk Kerja Sama Indo-Pasifik di Jakarta, Rabu (20/3/2019). Acara ini dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dihadiri delegasi dari 18 negara di kawasan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Duta Besar Australia untuk ASEAN Will Nankervis mengatakan Australia berkomitmen untuk mendukung sentralitas ASEAN.

Komitmen terhadap sentralitas ASEAN tersebut disampaikan setelah Australia sebelumnya mengumumkan bahwa mereka akan membentuk kemitraan keamanan yang ditingkatkan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AUKUS). Nankervis menyebut bahwa kemitraan ini akan memungkinkan mereka untuk berbagi teknologi dan kemampuan dengan lebih baik.

1. Australia akan membangun armada kapal selam bertenaga nuklir
Australia Tegaskan Komitmen untuk Dukung Sentralitas ASEAN

Nankervis mengatakan bahwa perjanjian baru ini tidak mengubah komitmen Australia terhadap ASEAN maupun dukungan berkelanjutan negara tersebut untuk arsitektur regional yang dipimpin ASEAN. Ia menyebut Australia berkomitmen untuk terus mendorong kawasan yang damai dan aman dengan ASEAN sebagai pusatnya, dan untuk melengkapi dan memperkuat rancangan yang telah ada, yang dipimpin oleh ASEAN.

“Sebagai negara dengan tiga samudra yang bergantung pada perdagangan internasional lintas laut, kapabilitas angkatan laut kami sangat penting bagi Australia. Untuk inisiatif pertama di bawah kemitraan AUKUS, Australia akan membangun armada kapal selam bertenaga nuklir, memanfaatkan keahlian dari Amerika Serikat dan Inggris,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun kapal selam tersebut akan bertenaga nuklir, namun tidak akan membawa senjata nuklir. “Australia tidak sedang dan tidak akan mencari senjata semacam itu. Kami juga tidak berusaha membangun kemampuan nuklir sipil,” kata Nankervis.

2. Australia tetap teguh mendukung Perjanjian Non-Proliferasi
Australia Tegaskan Komitmen untuk Dukung Sentralitas ASEAN

Nankervis juga mengatakan Australia tetap teguh mendukung Perjanjian Non-Proliferasi (NPT). Oleh karenanya, Australia akan bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap kewajiban NPT-nya sebagai Negara Non-Senjata Nuklir.

“Kami tetap berkomitmen untuk memperkuat kepercayaan internasional terhadap integritas rezim non-proliferasi internasional, dan menegakkan kepemimpinan global kami dalam bidang ini,” ungkapnya.

Nankervis menyebut bahwa sebagai pihak dalam Perjanjian Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, Australia memahami pentingnya Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara bagi negara-negara Asia Tenggara. Untuk itu, Australia akan selalu memastikan tindakannya mendukung perjanjian penting tersebut.

Ia juga menyebut bahwa Australia adalah pendukung kuat tatanan maritim berbasis aturan, dan Australia mendukung semua negara untuk dapat menggunakan hak dan kebebasan mereka sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

“Australia akan terus bermitra dengan anggota ASEAN, termasuk dalam pengembangan sumber daya laut yang berkelanjutan dan memerangi tantangan seperti penangkapan ikan ilegal, yang tidak diatur dan tidak dilaporkan, yang dipandu oleh ASEAN Outlook mengenai Indo-Pasifik,” katanya.

3. Kemitraan dan kerja sama positif jadi inti dari pendekatan Australia
Australia Tegaskan Kapal Selam di Pakta AUKUS Tak Akan Bawa Senjata Nuklir  - Global Liputan6.com

Lebih lanjut, Nankervis mengatakan bahwa kemitraan dan kerja sama positif merupakan inti dari pendekatan Australia di kawasan. Ia menyebut kemitraan ASEAN-Australia telah tumbuh secara signifikan sejak tahun lalu, di mana telah terbentuk KTT Tahunan dan kerja sama baru untuk mendukung respons kesehatan yang efektif terhadap pandemik – termasuk akses untuk vaksin yang aman dan efektif – dan jalan menuju pemulihan ekonomi.

“Australia bangga dengan komitmen kami untuk menyediakan setidaknya 20 juta vaksin bagi Asia Tenggara dan Pasifik dan bantuan hibah tambahan sebesar 623 juta dolar Australia untuk mendukung negara-negara di seluruh Indo-Pasifik dalam pengadaan dan distribusi vaksin bagi warganya,” ujarnya.

Nankervis menambahkan bahwa Australia adalah pendukung kuat ASEAN Outlook mengenai Indo-Pasifik. Australia berkomitmen pada prinsip-prinsip dalam Outlook, termasuk sentralitas ASEAN, keterbukaan, transparansi, inklusivitas, tata kelola yang baik, kerangka kerja berbasis aturan dan penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional.

“Dan kami juga berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama nyata di bawah empat bidang Outlook – maritim, konektivitas, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan pembangunan ekonomi,” jelasnya.

Ia juga mengatakan Australia berpartisipasi aktif dalam Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN-Plus, termasuk dalam kerja sama di bidang-bidang seperti kedokteran militer, operasi penjaga perdamaian, keamanan maritim, dan kontra-terorisme.

Nankervis juga menegaskan bahwa Australia berkomitmen untuk menegakkan kewajibannya di bawah Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama, seperti yang telah disetujui pada 2005, dan untuk bekerja dengan ASEAN dan negara-negara anggotanya untuk memajukan perdamaian dan kemakmuran di kawasan.

“Kami melakukan ini agar kita semua dapat tumbuh dan berkembang di kawasan yang terbuka, stabil, dan inklusif, dengan ASEAN sebagai pusatnya,” katanya.

Lemahnya sentralitas dan keterlibatan masyarakat sipil dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di ASEAN merupakan hal krusial dari banyak permasalahan yang dihadapi ASEAN dalam usianya yang mencapai 45 tahun.

Bertambahnya anggota dan mitra dialog baru yang masuk tidak cukup menjadi ukuran semakin signifikannya kehadiran ASEAN di kawasan. Tulisan ini mengungkapkan dan menganalisis kelemahan ASEAN terkait sentralitas kepemimpinan di tengah targetnya mewujudkan komunitas kawasan tahun 2015.