Beberapa Negara yang Enggan Menerima Pengungsi Afghanistan

Beberapa Negara yang Enggan Menerima Pengungsi Afghanistan

Beberapa Negara yang Enggan Menerima Pengungsi Afghanistan – Ribuan orang tengah berebut untuk melarikan diri dari Afghanistan setelah Taliban merebut kembali kendali negara itu – hampir dua dekade setelah kelompok itu digulingkan oleh koalisi militer pimpinan Amerika Serikat. Sebelum terjadinya pengambilalihan kekuasaan baru-baru ini, menurut data Komisioner PBB untuk Pengungsi atau UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) tahun lalu, diperkirakan terdapat 2,2 juta pengungsi Afghanistan yang telah berada di negara tetangga.

Lalu, total diperkirakan terdapat 3,5 juta orang yang telah kehilangan tempat tinggal di daerah perbatasan Afghanistan akibat dari konflik yang sedang berlangsung dan ketidakstabilan politik. Jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban bisa menjadi mimpi buruk bagi beberapa negara di dunia, baik dalam hal keamanan maupun arus pengungsi. Walaupun beberapa negara tetap membuka pintu mereka untuk menampung para pengungsi dari Afghanistan, tidak sedikit yang membatasi bahkan enggan menerima.

Dikutip dari Al Jazeera, respons global atas takluknya Afghanistan sangat beragam. Tidak semua negara Download IDN Poker77 menerima pengungsi dengan lapang dada. Ada yang membatasi kedatangan bahkan menolak pengungsi Afghanistan. Turki, Yunani, Austria, Swiss, dan Australia adalah beberapa negara yang tidak menginginkan kehadiran pengungsi asal Afghanistan. Pengalaman mereka menghadapi pengungsi dan sentimen antipengungsi yang kuat menjadi alasan mengapa mereka mereka tidak membuka pintu bagi para pengungsi.

1. Turki
Arus Pengungsi Afghanistan kian Deras, 5 Negara Ini Tutup Pintu

Sebagai salah satu negara Eropa yang menampung banyak pengungsi, Turki menolak keras jika negaranya berubah menjadi “tempat penyimpanan pengungsinya Eropa”. Ketika Afghanistan ditaklukkan Taliban, Ankara sangat khawatir warganya mengungsi dan akan melipatgandakan jumlah pengungsi yang datang ke Turki.

Dilaporkan ABC, pemerintah Turki bersama Iran sekarang tengah mempersiapkan tembok pembatas di perbatasan Turki-Iran sepanjang 241 km. Pada 18 Agustus 2021, sekitar 155 km sudah berhasil diselesaikan.

Tidak hanya membangun tembok, Turki juga mengirim banyak prajurit ke perbatasannya di sebelah timur dengan harapan dapat menghentikan gerak laju pengungsi Afghanistan. Pada awal 2021, Turki berhasil menghalau 62 ribu pengungsi dari berbagai negara yang mencoba masuk melalui perbatasan Iran.

2. Yunani
Arus Pengungsi Afghanistan kian Deras, 5 Negara Ini Tutup Pintu

Yunani yang berbatasan langsung dengan Turki ikut khawatir akan kondisi yang terjadi di Afghanistan. Pengalaman menjadi tempat berlabuh jutaan pengungsi asal Suriah, Irak, dan Afghanistan, membuat Yunani tidak ingin terus-terusan menjadi pintu gerbang menuju Eropa.

Melansir Reuters, menanggapi situasi serius di Afghanistan, pemerintah Yunani sudah menyiapkan pagar pembatas sepanjang 40 km di perbatasan Yunani-Turki dilengkapi dengan sistem pengawas. Kebijakan ini nantinya akan digunakan Yunani untuk menghalau pengungsi Afghanistan yang berhasil lolos masuk ke Turki.

Sebagai negara anggota Uni Eropa, Yunani mendesak organisasi regional paling makmur tersebut agar segera membahas masalah Afghanistan sehingga Athena tidak perlu menghadapi krisis pengungsi asal Afghanistan sendirian.

3. Austria
Arus Pengungsi Afghanistan kian Deras, 5 Negara Ini Tutup Pintu

Austria menilai negaranya sudah “berkontribusi besar” atas Afghanistan sejak beberapa tahun lalu, sehingga sekarang bukan saatnya bagi mereka untuk menerima pengungsi dari negara itu.

Kanselir Austria, Sebastian Kurz, memastikan pemerintahan Austria tidak akan membuka pintu bagi pengungsi Afghanistan karena mereka dianggap akan membebani Austria, seperti yang dilansir Politico. Hingga kini, negara tersebut sudah menampung sekitar 40 hingga 44 ribu pengungsi asal Afghanistan dari beberapa tahun silam.

Meskipun begitu, Austria mendukung pemberian bantuan langsung dan pembangunan pusat deportasi di negara-negara yang berbatasan dengan Afghanistan. Rencana ini digaungkan Kanselir Kurz yang menginginkan semua pengungsi Afghanistan agar tetap berada di sekitar negara mereka dan bukannya hijrah ke Eropa.

4. Australia
Arus Pengungsi Afghanistan kian Deras, 5 Negara Ini Tutup Pintu

Populer dengan kebijakan antipengungsinya, Australia yang ikut terlibat dalam konflik di Afghanistan awalnya menolak kedatangan pengungsi dari sana. Pemerintah Australia sudah memastikan bahwa negaranya tidak akan menerima pengungsi Afghanistan dalam jumlah besar seperti apa yang dilakukan sekutu-sekutunya, yakni Inggris, Kanada, dan AS.

Namun, Australia mendapat desakan yang luar biasa baik internal maupun eksternal. Akhirnya Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menyatakan negara itu akan menyediakan 3.000 visa kemanusiaan bagi pengungsi Afghanistan hingga akhir 2021.

Saat ini, Australia menjadi rumah untuk setidaknya 4.200 warga negara Afghanistan dengan visa sementara. Dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah, akan lebih banyak pengungsi Afghanistan dapat diselamatkan dalam waktu beberapa minggu ke depan.

5. Swiss
Arus Pengungsi Afghanistan kian Deras, 5 Negara Ini Tutup Pintu

Negara kecil yang terletak di Pegunungan Alpen ini ternyata berencana untuk tidak menerima pengungsi Afghanistan dalam jumlah besar. Selain itu, pengungsi asal Afghanistan yang ingin berlindung di Swiss, harus terlebih dahulu memiliki hubungan dan koneksi yang dekat dengan pemerintah Swiss.

Melansir Al Jazeera, Swiss sampai hari ini masih berupaya mengevakuasi 230 pekerja sosial mereka lokal beserta keluarganya dari Afghanistan, ditambah 40 pekerja lokal dan keluarga mereka yang bekerja untuk Swiss Development Agency di Kota Kabul.

Namun di luar itu, mereka tidak berencana menerima pengungsi dalam waktu dekat. Sikap yang ditunjukkan Swiss ini sebenarnya memang lumrah terjadi karena kekhawatiran beberapa negara bahwa mereka akan kewalahan menerima pengungsi.

Taliban mengendalikan semua titik perlintasan darat utama dengan tetangga Afghanistan (ditunjukkan pada peta di bawah) dan militan mengatakan mereka tidak ingin warga Afghanistan meninggalkan negara itu. Laporan menunjukkan hanya pedagang atau mereka yang memiliki dokumen perjalanan yang sah yang diizinkan untuk menyeberang.

Beberapa ribu warga Afghanistan disebut telah menyeberang ke Pakistan tidak lama setelah Taliban menguasai Kabul, sementara sekitar 1.500 warga Afghanistan dilaporkan telah memasuki Uzbekistan dan tinggal di tenda-tenda dekat perbatasan.

Di Kabul, ribuan orang telah menuju ke bandara internasional, saat ini satu-satunya yang beroperasi di negara itu, dalam upaya putus asa untuk melarikan diri. Pada hari Jumat, seorang pejabat NATO mengatakan lebih dari 18.000 orang telah diterbangkan keluar dari bandara sejak Taliban mengambil alih, tetapi tidak jelas berapa banyak dari mereka adalah warga negara Afghanistan.