Daftar Negara yang Pantas Dapat Pujian Dalam Situasi Pendemik

Daftar Negara yang Pantas Dapat Pujian Dalam Situasi Pendemik

Daftar Negara yang Pantas Dapat Pujian Dalam Situasi Pendemik – Pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Artinya, virus Corona telah diakui menyebar luas hampir ke seluruh dunia. WHO sendiri mendefinisikan pandemi sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit.

Sedangkan dilansir ABC News, pandemi adalah epidemi global. Epidemi sendiri adalah wabah atau peningkatan kasus penyakit dengan skala yang lebih besar. Survei Economist Intelligence Unit (EIU) menobatkan Auckland, Selandia Baru sebagai kota paling layak huni di dunia pada 2021. Ada berbagai macam indikator yang digunakan untuk menetapkan hal tersebut, mulai dari stabilitas, infrastruktur, pendidikan, dan akses layanan kesehatan.

Tahun ini, EIU menyoroti pandemik COVID-19 sebagai faktor penentu. Hal itulah yang menjadikan Daftar Poker77 kota-kota di Eropa jatuh, sementara banyak kota di Australia, Jepang, dan Selandia Baru naik peringkat. Sejak tahun pertama pandemik, Selandia Baru di bawah pimpinan Perdana Menteri Jacinda Ardern mendapat pujian dari banyak pihak karena kemampuannya dalam mengatasi pandemik.

1. Berikut 10 daftar negara paling layak huni 2021
Ini 10 Daftar Negara Paling Layak Huni di Tengah Pandemik COVID-19 

Auckland menduduki puncak daftar, diikuti oleh Osaka, Adelaide, Wellington, dan Tokyo.

“Auckland naik ke peringkat teratas karena pendekatannya yang berhasil dalam mengatasi pandemi Covid-19, yang memungkinkan masyarakatnya tetap terbuka dan kota ini mendapat skor yang kuat,” kata EIU, sebagaimana dikutip dari BBC.

Untuk lebih jelasnya, berikut 10 kota paling layak huni 2021:

  1. Auckland, Selandia Baru.
  2. Osaka, Jepang.
  3. Adelaide, Australia.
  4. Wellington, Selandia Baru.
  5. Tokyo, Jepang.
  6. Perth, Australia.
  7. Zurich, Swiss.
  8. Genewa, Swiss.
  9. Melbourne, Australia.
  10. Brisbane, Australia.
2. Peringkat kota-kota di Eropa anjlok gegara COVID-19
Ini 10 Daftar Negara Paling Layak Huni di Tengah Pandemik COVID-19 

Sementara, banyak negara Eropa disorot karena peluncuran vaksin yang sangat lambat. Selain itu, pemberlakuan lockdown akibat lonjakan infeksi turut merusak nilai dalam survei tahun ini.

“Kota-kota Eropa bernasib sangat buruk dalam edisi tahun ini. Delapan dari sepuluh penurunan terbesar dalam peringkat adalah kota-kota Eropa,” tertulis dalam laporan tersebut.

Wina, misalnya, turun dari peringkat pertama ke peringkat 12. Ibukota Austria telah memimpin daftar selama beberapa tahun, biasanya bersaing di puncak dengan Melbourne. Tapi, Hamburg di Jerman utara mengalami penurunan paling dramatis, turun 34 peringkat hingga posisi 47.

Tren ini disebabkan oleh tekanan pada sumber daya rumah sakit, yang menurut penelitian telah meningkat di sebagian besar kota di Jerman dan Prancis, berdampak pada skor layanan kesehatan yang memburuk.

“Kota-kota di seluruh dunia sekarang jauh lebih tidak layak huni daripada sebelum pandemik dimulai, dan kami melihat bahwa wilayah seperti Eropa telah terpukul sangat keras,” tambah EIU.

3. Berikut 10 negara paling tidak layak huni pada 2021
Ini 10 Daftar Negara Paling Layak Huni di Tengah Pandemik COVID-19 

Sementara bagian atas daftar banyak mengalami pergeseran, studi EIU mengungkap ada lebih sedikit pergerakan di bagian bawah.

Damaskus tetap menjadi kota yang paling tidak layak, sebagian besar karena perang saudara Suriah yang terus berlanjut. Banyak kota yang peringkatnya buruk telah dirusak oleh konflik, yang telah memberikan tekanan pada sistem dan infrastruktur kesehatan mereka.

Secara lebih lengkap, berikut 10 negara paling tidak layak huni pada 2021:

  1. Damaskus, Suriah.
  2. Lagos, Nigeria.
  3. Port Moresby, Papua Nugini.
  4. Dhaka, Bangladesh.
  5. Algiers, Aljazair.
  6. Tripoli, Libya.
  7. Karachi, Pakistan.
  8. Harare, Zimbabwe.
  9. Douala, Kamerun.
  10. Caracas, Venezuela.

Sementara itu, India secara resmi telah melaporkan sebanyak 180.530 kematian akibat COVID-19. Namun para ahli kesehatan memperingatkan, jumlah kematian resmi itu tidak mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Beberapa kota besar melaporkan, jumlah kremasi dan penguburan dengan protokol COVID-19 jauh lebih banyak dibandingkan jumlah kematian resmi yang tercatat, demikian dilaporkan kantor berita Reuters mengutip pekerja krematorium dan pemakaman serta peninjauan terhadap data pemerintah.