Gelombang Protes Menolak Lockdown di Beberapa Kota di Eropa

Gelombang Protes Menolak Lockdown di Beberapa Kota di Eropa

Gelombang Protes Menolak Lockdown di Beberapa Kota di Eropa – Karantina wilayah (lockdown) adalah penerapan karantina terhadap suatu daerah atau wilayah tertentu dalam rangka mencegah perpindahan orang, baik masuk maupun keluar wilayah tersebut, untuk tujuan tertentu yang mendesak. Kebijakan karantina wilayah ditetapkan oleh sebuah negara yang mengalami keadaan darurat seperti perang atau wabah penyakit menular.

Istilah ini banyak dikenal akibat adanya pandemi penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) yang tersebar secara masif di berbagai negara. Gelombang protes pecah di beberapa kota di Eropa, karena para demonstran menentang pembatasan sosial yang baru diterapkan untuk mencegah penularan pandemik COVID-19. Dikutip dari AFP, bentrokan terjadi di Brussel (Belgia), beberapa kota di Belanda, dan Guadaloupe (Prancis).

Demonstrasi juga terjadi di Austria sebagai bentuk penolakan warga terhadap  lockdown nasional yang mulai diterapkan Di Brussel, polisi melaporkan sekitar 35 ribu orang turun ke jalan menentang kebijakan anti-COVID-19. Sebagian besar massa menolak larangan mengunjungi restoran dan bar bagi mereka yang belum divaksinasi.

1. Aksi dimulai dengan damai dan berakhir ricuh
Demonstrasi Menolak Lockdown Pecah di 4 Negara Eropa Ini

Demonstrasi dimulai dengan damai, tetapi polisi menembakkan meriam air dan gas air mata sebagai tanggapan terhadap pengunjuk rasa yang melemparkan proyektil. Berdasarkan laporan kepolisian Belgia, ada tiga petugas yang terluka.

Beberapa demonstran yang terjebak dalam bentrokan mengenakan kerudung dan membawa bendera nasionalis Flemish, sementara yang lain mengenakan bintang kuning era Nazi. Para pengunjuk rasa membakar palet kayu, dan potret di media sosial memperliahtkan mereka menyerang mobil polisi dengan rambu-rambu jalan.

Protes juga meletus di beberapa kota Belanda pada Minggu, tercatat sebagai malam kerusuhan ketiga yang menentang kebijakan pembatasan. Demonstran menyalakan kembang api dan merusak properti, seperti Groningen, Leeuwarden, Enschede, dan Tilburg.

“Polisi anti huru hara hadir di pusat untuk memulihkan ketertiban,” kata juru bicara kepolisian Groningen.

Sejauh ini, lebih dari 100 orang telah ditangkap di Belanda dan setidaknya 12 orang terluka selama demonstrasi.

2. Austria kembali terapkan lockdown nasional
Demonstrasi Menolak Lockdown Pecah di 4 Negara Eropa Ini

Di Austria, sekitar 6.000 orang berkumpul di kota Linz dalam protes yang dipimpin oleh partai politik baru sayap kanan. Sehari sebelumnya, 40 ribu orang juga berbaris di Wina untuk menentang lockdown.

Mulai Senin, 8,9 juta orang Austria tidak diizinkan meninggalkan rumah kecuali pergi bekerja, berbelanja kebutuhan pokok, dan berolahraga, itu pun dengan sejumlah syarat dan penyesuaian. Pemerintah juga akan mewajibkan vaksin COVID-19 bagi seluruh warga mulai Februari 2022, dikutip dari ABC.

Pemerintah juga berencana untuk memperluas pengetatan dan memperpanjang durasi lockdown bagi warga yang tidak divaksinasi COVID-19.

3. Ricuh di Prancis muncul di daerah dengan tingkat vaksinasi rendah
Demonstrasi Menolak Lockdown Pecah di 4 Negara Eropa Ini

Di Guadeloupe, Prancis, pengunjuk rasa yang menentang jam malam melakukan penjarahan dan membakar toko-toko serta apotek. Polisi menangkap sekitar 38 demonstran dan dua anggotanya teruka. Jam malam akan diberlakukan dari senja hingga fajar sampai Selasa.

Demonstran di Guadeloupe menembaki pasukan keamanan dan petugas pemadam kebakaran. Tingkat vaksinasi COVID-19 di Guadeloupe lebih rendah di beberapa wilayah Prancis. Pemerintah telah mengingatkan bahwa tanda-tanda peningkatan infeksi mulai mengkhawatirkan.

“Gelombang kelima dimulai dengan sangat cepat,” kata juru bicara pemerintah, Gabriel Attal.

Dalam catatan sejarah, Indonesia pernah menerapkan karantina wilayah pertama kali ketika pada masa Hindia Belanda. Tepatnya pada tahun 1911−1916. Kala itu, Pulau Jawa dan Sumatra mengalami wabah pes yang episentrumnya, terletak di kota Malang. Tercatat pada kisaran waktu tersebut, wabah pes di dua pulau itu memakan sebanyak 1911 korban jiwa.

Karantina wilayah pun diadakan dan menjadi karantina wilayah yang pertama kali di Indonesia. Akhirnya, karantina ini pun menghasilkan efek yang signifikan berupa turunnya angka penularan wabah pes yang kemudian berangsur dengan hilangnya wabah tersebut.