Inggris Akan Jalankan Rencana Ekonomi Rendah Karbon di 2023

Inggris Akan Jalankan Rencana Ekonomi Rendah Karbon di 2023

Inggris Akan Jalankan Rencana Ekonomi Rendah Karbon di 2023Belakangan makin populer istilah net-zero emissions atau nol-bersih emisi. Meskipun sudah muncul sejak 2008, istilah net-zero emissions kian mendapat sorotan karena Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Paris pada 2015 mewajibkan negara industri dan maju mencapai nol-bersih emisi pada 2050.

Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak, akan memberi tahu perusahaan-perusahaan untuk menetapkan rencana transisi ke ekonomi rendah karbon pada 2023. Kebijakan itu merupakan upaya Inggris untuk menjadi pusat keuangan pertama di dunia yang mencapai emisi karbon nol bersih.

Namun, Sunak tidak mewajibkan perusahaan untuk mencapai nol bersih atau melarang investasi pada kegiatan yang mengeluarkan banyak karbon. Sebaliknya, investor harus menentukan apakah rencana perusahaannya memadai dan kredibel.

1. Inggris tidak ingin perusahaan melakukan ‘kamuflase hijau’
Inggris Dorong Swasta Bantu Wujudkan Emisi Karbon Nol Bersih

Satuan tugas baru akan menawarkan model untuk rencana transisi, sebagai upaya menghindari ‘kamuflase hijau’, merujuk pada strategi komunikasi yang dijalankan oleh perusahaan seolah-olah ramah lingkungan padahal aktivitasnya merusak lingkungan.

Tahun depan, Inggris juga akan menerbitkan proposal yang menetapkan bagaimana sektor keuangan harus bertransisi menuju nol bersih pada 2050.

Sunak menyambut baik pengumuman dari Glasgow Financial Alliance for Net Zero, bahwa lebih dari 130 triliun dolar AS (sekitar Rp1.863 kuadriliun) modal swasta akan diselaraskan dengan tujuan iklim untuk membatasi pemanasan global.

2. Inggris akan danai program ekonomi hijau di negara berkembang
Inggris Dorong Swasta Bantu Wujudkan Emisi Karbon Nol Bersih

Glasgow Financial Alliance for Net Zero merupakan pengelompokan lebih dari 160 perusahaan keuangan yang diketuai oleh mantan Gubernur Bank of England, Mark Carney.

Inggris berusaha untuk mengatasi hambatan keuangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dengan serangkaian inisiatif hijau baru, termasuk pendanaan 100 juta pound (sekitar Rp1,9 triliun) untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi krisis iklim.

“(Rencana itu akan) memperbaiki seluruh sistem keuangan global menjadi nol bersih,” kata Sunak dalam pidatonya di COP26.

3. Negara berkembang akan dapat beragam insentif untuk pengembangan energi hijau

Pendanaan senilai 100 miliar dolar AS (Rp1,4 kuadriliun) diperuntukkan negara-negara yang paling rentan akan terpenuhi pada 2023. Negara-negara berkembang juga akan dibantu dengan mekanisme pembiayaan baru untuk meningkatkan investasi energi bersih terbarukan, seperti tenaga surya dan tenaga angin.

Inggris akan memberikan hasil investasinya di Climate Investment Funds, sebuah proyek untuk membantu negara-negara berkembang yang didukung oleh pemberi pinjaman seperti Bank Dunia, ke dalam mekanisme baru yang direncanakan untuk menerbitkan obligasi hijau senilai miliaran pound untuk proyek-proyek energi bersih.

Net-zero emissions atau nol-bersih emisi tak mengacu pada pengertian berhentinya umat manusia memproduksi emisi. Secara alamiah manusia dan dunia tidak bisa tak memproduksi emisi. Manusia bernapas saja menghasilkan karbon dioksida (CO2). Jika dikalikan jumlah manusia sebanyak 7,8 miliar, emisi karbon dari napas manusia berkontribusi 5,8% terhadap volume emisi karbon tahunan.

Karena itu, nol-bersih emisi adalah karbon negatif. Artinya, emisi yang diproduksi manusia bisa diserap sepenuhnya sehingga tak ada yang menguap hingga ke atmosfer. Apa yang bisa menyerap emisi karbon? Secara alamiah, emisi terserap oleh pohon, laut, dan tanah.

Melalui reaksi kimia yang kompleks, pohon, perairan, dan tanah memproses emisi karbon itu dalam siklus fotosintesis. CO2 yang bercampur dengan zat dan gas lain akan membentuk reaksi kimia yang melepaskan karbon dan oksigen. Oksigen tentu dibutuhkan mahluk hidup, karbon diperlukan untuk tanaman tumbuh hingga menjadi bahan dasar logam.