Kelompok Tigray Menjarah Gudang Pasokan Bantuan Kemanusiaan

Kelompok Tigray Menjarah Gudang Pasokan Bantuan Kemanusiaan

Kelompok Tigray Menjarah Gudang Pasokan Bantuan Kemanusiaan – Konflik antara pemerintah Ethiopia dan pasukan bersenjata Tigray yang terletak di sebelah utara negara tersebut semakin memanas. Pertempuran telah terjadi selama hampir dua pekan, menyebabkan destabilisasi di negara Afrika Timur yang padat penduduk itu. Ratusan orang dilaporkan meninggal dunia.

Perebutan kekuasaan, pemilihan umum, dan tuntutan reformasi politik adalah sejumlah faktor yang menyebabkan krisis tersebut. Pasukan kelompok Tigrayan People’s Liberation Front (TPLF) telah dituduh menjarah gudang pasokan bantuan kemanusiaan. Tindakan itu dikabarkan pada Selasa (31/8) oleh direktur USAID, sebuah lembaga bantuan kemanusiaan AS, yang kini turun membantu pengungsi di Ethiopia.

Ethiopia telah dilanda perang mematikan antara pasukan federal pemerintah Ethiopia dengan kelompok TPLF. Ribuan orang meninggal dan ratusan ribu orang lainnya menjadi pengungsi. Perang telah berlangsung selama 10 bulan dan menciptakan “krisis pengungsi yang belum pernah dilihat di dunia,” kata Hassan Khannenje, direktur HORN International Institute for Strategic Studies, seperti dikutip Deutsche Welle.

1. Pasokan makanan untuk pengungsi semakin menipis
Ethiopia: Pasukan Tigray Jarah Gudang Bantuan Kemanusiaan

Perang di Ethiopia terjadi di bagian ujung paling utara, yakni di regional Tigray. Di wilayah tersebut, ada satu kekuatan politik yang diperangi oleh pemerintah Ethiopia yakni TPLF. Oleh Perdana Menteri (PM) Ethiopia Abiy Ahmed Aly, TPLF dicap sebagai organisasi teroris.

Perang itu mulai pada bulan November 2020 dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda selesai.

Ribuan korban berjatuhan dari kedua belah pihak dan ratusan ribu pengungsi Tigrayan (orang-orang Tigray) telah menderita kekurangan makanan. Perempuan hamil dan anak-anak juga dilaporkan mengalami malanutrisi.

Perang itu kini melebar ke regional tetangga yaitu di regional Afar yang berada di timur Tigray, dan regional Amhara yang berada di barat Tigray. Karenanya, ancaman kemanusiaan semakin serius.

Dalam satu bulan terakhir, pasokan makanan di kamp pengungsian telah semakin menipis tapi truk-truk yang membawa pasokan tidak bisa mengirim karena jalurnya diblokade.

Melansir France24, badan kemanusiaan PBB OCHA mengatakan “stok bantuan pangan semakin menipis, dan distribusi pangan baru telah dihentikan, selain di daerah-daerah di mana pasokan sudah dikirim dan dalam perjalanan.”

Badan kemanusiaan PBB OCHA mengatakan aliran bantuan ke Tigray hampir berhenti sejak 20 Agustus, tanpa ada truk yang bisa masuk ke wilayah tersebut.

Menurut PBB, para pekerja bantuan telah berjuang untuk bisa mengakses para pengungsi, yang menurut lembaga tersebut sekitar 400.000 orang menghadapi kondisi seperti kelaparan.

2. TPLF dituduh menjarah gudang pasokan bantuan

Menanggapi krisis kemanusiaan akibat konflik antara TPLF dengan pasukan pemerintah federal Ethiopia, Amerika Serikat (AS) melalui lembaga bantuan yang bernama USAID telah turun tangan untuk membantu.

Melansir laman resminya, USAID mengatakan lebih dari 152 juta dolar AS atau Rp2,1 triliun akan diberikan untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan di Ethiopia itu.

Namun dalam kabar yang terbaru, TPLF dituduh telah melakukan penjarahan di gudang milik USAID yang berada di regional Amhara.

Melansir kantor berita Reuters, Sean Jones, direktur USAID di Ethiopia mengatakan “kami memiliki bukti bahwa beberapa gudang kami telah dijarah dan dikosongkan sepenuhnya di daerah-daerah, terutama di Amhara, tempat tentara TPLF masuk,” jelasnya.

Dalam perkiraan USAID, ada sekitar 900 ribu orang di Tigray dalam kondisi kelaparan dan lima juta orang lainnya membutuhkan bantuan.

Namun pasukan TPLF, melansir BBC, telah mengosongkan gudang, mengambil makanan dan barang-barang lainnya. Mereka juga mencuri truk. Kepala USAID juga mengatakan pasukan TPLF telah menyebabkan “kehancuran besar” di desa-desa yang mereka kunjungi.

3. Solusi perdamaian yang sulit dicapai

Upaya untuk mencari solusi pertikaian antara TPLF dengan pemerintah Ethiopia telah dilakukan. Bahkan Sekjen PBB telah mendesak agar dua belah pihak berunding karena solusi militer tidak akan memperbaiki permasalahan.

Namun sepertinya dua belah pihak yang bertikai tidak mau mengakhiri konflik dan sama-sama yakin dengan solusi militer (perang) mereka.

Melansir Deutsche Welle, Hassan Khannenje, direktur HORN International Institute for Strategic Studies mengatakan “ketidakmampuan untuk mencegah konflik ini adalah kegagalan Afrika secara keseluruhan.”

Tapi upaya untuk mendamaikan melalui lembaga Afrika Union (AU) juga mentah karena TPLF menuding bahwa peran AU bias terhadap PM Abiy Ahmed.

Dalam penjelasan Hassan Khannenje, “kedua kelompok tersebut percaya bahwa mereka mungkin memiliki solusi militer untuk konflik tersebut. Ada jalan buntu, dan ini tidak terlalu membantu.

“Jika kedua belah pihak tidak dibantu dalam mengakui bahwa tidak ada solusi militer untuk apa yang pada dasarnya adalah masalah politik, itu akan menjadi tantangan,” tambahnya.

Konflik berawal pada 4 November, saat Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, memerintahkan serangan militer terhadap pasukan regional di Tigray. Ia beralasan, serangan itu adalah respons atas serangan pada perumahan militer untuk pasukan pemerintah di Tigray.

Eskalasi ini terjadi setelah pemerintahan Abiy dan pemimpin partai politik yang dominan di Tigray berseteru selama berbulan-bulan. Selama nyaris 30 tahun, partai politik ini berada di pusat kekuasaan, sampai Abiy menjabat pada 2018 menyusul demonstrasi anti-pemerintah. Abiy menginginkan reformasi, namun Tigray melawan, sehingga terjadilah krisis politik.