Keluarga Korban Serangan Drone AS di Kabul Tuntut Kompensasi

Keluarga Korban Serangan Drone AS di Kabul Tuntut Kompensasi

Keluarga Korban Serangan Drone AS di Kabul Tuntut Kompensasi – Militer Amerika Serikat pada Jumat (17/9) meminta maaf karena serangan pesawat nirawak (drone) yang dilakukannya di Kabul pada Agustus ternyata menewaskan 10 warga sipil. Korban akibat drone itu termasuk tujuh anak-anak.

Serangan drone itu menewaskan 10 warga sipil. Hasil investigasi Pentagon menunjukkan bahwa AS salah mengidentifikasi Ezmarai Ahmadi, salah satu korban yang diduga intelijen AS berafiliasi dengan Islamic State-Khorasan (ISIS-K). Informasi intelijen kala itu menduga Ahmadi akan menyerang pasukan aliansi Barat dengan bom mobil.

Beberapa hari sebelumnya, ISIS-K melancarkan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan lebih dari 170 orang, termasuk 13 personel militer AS. Demi mencegah jatuhnya korban, AS memutuskan untuk melakukan aksi preventif dengan melepas rudal ke mobil yang dikendari oleh Ahmadi.

1. Laporan Pentagon membuktikan bahwa korban tidak terafiliasi dengan ISIS-K
Siapa ISIS-K? Militan yang Ledakkan Bom Bunuh Diri di Bandara Kabul, Apa  Hubungannya dengan Taliban? - Tribunnews.com Mobile

Sebelumnya, Pentagon dan pejabat Departemen Pertahanan AS telah mengajukan permohonan maaf atas serangan yang merenggut nyawa penduduk tidak berdosa.

Mereka beralasan gagal memverifikasi informasi intelijen karena tidak memiliki personel yang berada di darat. Saat itu, semua personel fokus untuk operasi evakuasi setelah Taliban mengambil alih pemerintahan.

“Mereka bukan teroris, dan sekarang jelas bagi mereka dan seluruh dunia untuk melihatnya,” tambah Haidari, seraya mengatakan bila AS belum menghubungi pihak keluarga sampai saat ini.

Pada saat yang sama, Haidari juga menuntut agar pihak yang bertanggung jawab atas penembakan rudal itu ditangkap dan diadili.

2. Keluarga kecewa karena korban adalah orang yang pernah bekerja untuk AS
AS Ditagih Tanggung Jawab atas Tewasnya 10 Warga Kabul

Bukan hanya Ahmadi, Haidari juga kehilangan saudara laki-lakinya bernama Naser dan sepupunya yang masih muda. Dia marah karena AS tidak menghubungi pihak keluarga, padahal korban merupakan orang yang pernah bekerja untuk AS.

“Naser telah bekerja dengan orang Amerika selama sekitar 10 tahun. Paman saya juga bekerja dengan organisasi internasional,” ujar dia. Begitu pula dengan Ahmadi, yang sempat bekerja untuk kelompok bantuan AS.

Tidak lama setelah serangan, AS memberi keteragan pers bahwa ledakan susulan bersumber dari bom yang berada di dalam mobil. Tetapi, pada laporan terbaru, diketahui bahwa sumber ledakan adalah tangki propana di dekat kendaraan yang meledak, dikutip dari USA Today.

3. Keputusan AS untuk mengakui kesalahannya patut diapresiasi
AS Ditagih Tanggung Jawab atas Tewasnya 10 Warga Kabul

Aimal, saudara Ahmadi yang juga kehilangan putrinya yang berusia tiga tahun, juga menagih kompensasi dari Gedung Putih. Di sisi lain, dia menyebut pengakuan AS sebagai salah satu keputusan yang harus diapresiasi.

“Itu adalah kabar baik bagi kami, bahwa Amerika Serikat secara resmi mengakui kesalahan mereka karena menyerang warga sipil tak berdosa,” kata Aimal.

“Telah terbukti bahwa kami tidak bersalah. Kami menuntut keadilan dari lembaga internasional. Kemudian kami menginginkan kompensasi,” tambah dia.

Kepala Komando Pusat AS, Frank McKenzie, mengatakan pemerintah AS sedang mempelajari bagaimana pembayaran ganti rugi dapat dilakukan kepada keluarga mereka yang terbunuh.

Militer AS menyebut serangan drone itu merupakan kesalahan yang tragis. Pentagon, markas besar Departemen Pertahanan AS, sebelumnya menyebut serangan pada 29 Agustus ditargetkan pada seorang pengebom bunuh diri ISIS, yang menjadi ancaman bagi pasukan negara-negara asing pimpinan AS di bandara saat mereka menyelesaikan tahap terakhir penarikan dari Afghanistan.

Kepala Komando Pusat AS Jenderal Frank McKenzie mengatakan saat itu dia yakin serangan drone tersebut berhasil mengadang ancaman yang mengintai pasukan yang berada di bandara. “Penyelidikan kami sekarang menyimpulkan bahwa serangan itu adalah kesalahan yang tragis,” ujar McKenzie kepada wartawan.

Dia mengatakan sekarang dirinya beranggapan bahwa orang-orang yang terbunuh itu kemungkinan bukan para anggota cabang ISIS, ISIS-Khorasan, ataupun ancaman bagi pasukan AS. Menurut McKenzie Pentagon sedang mempertimbangkan untuk memberikan kompensasi.