PBB Khawatir KTT Iklim di Glasgow Akan Berujung Kegagalan

PBB Khawatir KTT Iklim di Glasgow Akan Berujung Kegagalan

PBB Khawatir KTT Iklim di Glasgow Akan Berujung Kegagalan – KTT Bumi atau yang juga dikenal dengan nama Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED), KTT Rio dan Konferensi Rio, merupakan salah satu konferensi utama Perserikatan Bangsa Bangsa yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil dari tanggal 3 Juni sampai 14 Juni 1992.

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, khawatir KTT iklim atau COP26 yang akan dihelat di Glasgow pada akhir Oktober nanti berujung kegagalan. Guterres menyebut situasi iklim saat ini sebagai tiket satu arah menuju bencana, yang berarti keadaan tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Sebagai informasi, COP26 akan berlangsung pada 31 Oktober hingga 12 November. Selama hampir dua minggu, para pemimpin dunia akan membahas strategi dan saling berbagi komitmen untuk mengatasi perubahan iklim.

1. Komitmen dalam COP21 tidak berbuah manis
PBB Khawatir COP26 Tidak Berjalan Mulus dan Berujung Kegagalan

Kekhawatiran Guterres bukan tanpa alasan. Pada COP21 atau pertemuan Paris 2015, para pemimpin dunia sepakat untuk membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celcius, atau bahkan tidak melebihi 1,5 derajat celcius.

Tapi, PBB khawatir dengan masalah di depan mata akibat peningkatan suhu sebesar 2,7 derajat celcius.

“Inidikasi saat ini menunjukkan lajur pemanasan setidaknya 2,7 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, dan itu jelas merupakan tiket satu arah menuju bencana,” ulas dia.

“Polusi karbon dari segelintir negara telah membuat umat manusia bertekuk lutut dan mereka memikul tanggung jawab terbesar,” katanya, dalam konferensi pers yang digelar oleh Covering Climate Now.

2. Anggota G20 harus mengambil tanggung jawab lebih
PBB Khawatir COP26 Tidak Berjalan Mulus dan Berujung Kegagalan

Guterres juga menyoroti peran penting dari G20, sebagai negara yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Mereka akan bertemu di Roma dan membahas bagaimana mereka ‘mempertanggungjawabkan’ dampak dari industrialisasinya.

“Mereka tahu ekonomi mereka bertanggung jawab atas empat perlima polusi karbon planet. Jika mereka tidak bertindak, kita akan menuju penderitaan manusia yang mengerikan,” terang dia.

“China dan Amerika Serikat harus melakukan lebih dari apa yang telah mereka umumkan sejauh ini,” harapnya.

3. Tiga lapisan es di gunung Afrika terancam punah
PBB Khawatir COP26 Tidak Berjalan Mulus dan Berujung Kegagalan

Baru-baru ini, Organisasi Metereologi Dunia (WMO) merilis laporan tentang ancaman perubahan iklim terhadap benua Afrika. Mereka memperingatkan, gletser di timur Afrika akan lenyap dalam dua dekade mendatang.

Fenomena itu akan mengancam nyawa 118 juta orang yang sangat miskin, karena terdampak kekeringan, banjir, dan panas ekstrem. Pendapatan mereka di bawah Rp26 ribu sehari.

Dalam laporan tersebut, dikatakan bahwa 2020 merupakan tahun terpanas ketiga di Afrika, dengan 0,86 derajat celcius di atas suhu rata-rata. Walaupun kenaikan suhu lebih lambat dari perkiraan, tetapi dampaknya tetap menghancurkan.

Ada tiga lapisan es yang terancam punah pada 2040 nanti, yaitu lapisan es di Gunung Kilimanjaro, Gunung Kenya, dan Gunung Rwenzoris Uganda.

“Penyusutan cepat dari gletser terakhir yang tersisa di Afrika Timur, yang diperkirakan akan mencair seluruhnya dalam waktu dekat, menandakan ancaman permanen pada sistem Bumi,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, dilansir dari CNA.

Pencapaian yang berhasil dicapai adalah Konvensi Perubahan Iklim yang pada akhirnya menghasilkan Protokol Kyoto. Salah satu perjanjian lain yang dicapai adalah bagi negara peserta untuk tidak melakukan kegiatan apapun di tanah adat yang tidak sesuai dengan adat istiadat atau dapat menyebabkan degradasi lingkungan.

Konvensi Keanekaragaman Hayati diperkenalkan di KTT Bumi, serta menjadi awal dari pendefinisian kembali berbagai tindakan yang mampu mencegah kerusakan wilayah-wilayah alam dan pertumbuhan yang tidak ekonomis.

Sejumlah kota juga dianugerahi dengan Penghargaan Pemerintah Lokal atas program lingkungan yang inovatif. Beberapa kota tersebut adalah Sudbury di Kanada yang terkenal dengan program ambisius mereka untuk merehabilitasi kerusakan lingkungan akibat industri pertambangan lokal.

Kota lainnya adalah Austin di Amerika Serikat atas idenya membuat strategi bangunan hijau, serta Kitakyushu di Jepang atas idenya dalam menggabungkan pendidikan internasional dan komponen pelatihan ke dalam program kontrol polusi.