Pemerintah Ethiopia Menahan 72 Supir yang Bekerja Untuk WFP

Pemerintah Ethiopia Menahan 72 Supir yang Bekerja Untuk WFP

Pemerintah Ethiopia Menahan 72 Supir yang Bekerja Untuk WFP – Laporan PBB mengungkapkan sebagian besar dari 5,5 juta orang di provinsi Tigray, Ethiopia membutuhkan bantuan makanan. Badan-badan PBB mengatakan krisis pangan di Tigray merupakan peristiwa terburuk sejak kelaparan melanda Somalia tahun 2010-2012, yang menewaskan lebih dari seperempat juta warga.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa pemerintah Ethiopia telah menangkap 72 supir yang bekerja untuk Badan Program Pangan Dunia (WFP). Perstiwa itu terjadi di sebelah utara Ethiopia, ketika para supir truk sedang mengangkut bantuan ke wilayah terdampak krisis.

Ini adalah tamparan baru bagi PBB, setelah satu hari sebelumnya Ethiopia menahan 16 staf lokal PBB. Beberapa pekan sebelumnya, Ethiopia juga mengusir tujuh petinggi PBB. Ketegangan berlanjut akibat blokade kemanusiaan yang diterapkan pemerintah Ethiopia terhadap wilayah Tigray.

1. Masih mencari alasan penangkapan

Ethiopia food crisis: Why does PM have a problem with wheat aid? - BBC News

PBB masih mencari tahu terkait alasan penangkapan para supir truk itu, yang sudah terjadi sejak 3 November di kota Semera. Juru bicara pemerintah, Legese Tulu, sejauh ini belum memberikan pernyataan.

“Kami mengonfirmasi bahwa 72 pengemudi outsourcing yang dikontrak oleh WFP telah ditahan di Semera. Kami bekerja sama dengan Pemerintah Ethiopia untuk memahami alasan di balik penahanan mereka,” kata juru bicara PBB pada Rabu (10/11/2021), dikutip dari Al Jazeera.

“Kami mengadvokasi pemerintah untuk memastikan keselamatan mereka dan perlindungan penuh atas hukum dan hak asasi mereka,” lanjut dia.

2. Sejumlah staf PBB ditahan pada hari sebelumnya
PBB Sebut Ethiopia Tahan 72 Supir Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan 

AP News melaporkan, PBB mengabarkan bahwa 16 staf lokalnya telah ditahan di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa. Para staf diketahui beretnis Tigray, yang menjadi target penahanan sepihak oleh pemerintah sejak kondisi darurat nasional diumumkan.

Berdasarkan keterangan Tulu, 16 staf PBB ditahan karena dituding terlibat dalam teror yang tidak terkait dengan pekerjaan mereka. Pemerintah juga menyebut sedang menahan orang-orang yang dicurigai mendukung pasukan Tigray.

Beberapa penahanan staf PBB terjadi bahkan ketika kepala kemanusiaan PBB, Martin Griffiths, berada di Ethiopia untuk menemui Perdana Menteri Abiy Ahmed dan pejabat lainnya. Kehadiran petinggi PBB di sana untuk mendesak agar akses terhadap bantuan kemanusiaan tetap dibuka.

3. PBB sulit mengirimkan bantuan
PBB Sebut Ethiopia Tahan 72 Supir Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan 

Penangkapan tersebut merupakan tantangan besar bagi PBB dalam upaya pengiriman bantuan kemanusiaan terhadap jutaan rakyat Tigray. Sekitar 400 ribu orang di wilayah itu dilaporkan berada dalam kondisi kelaparan akibat konflik yang terus berkecamuk setahun terakhir.

Dilansir France24, bantuan yang sangat dibutuhkan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar sulit diakses sejak 18 Oktober. Pemerintah Ethiopia mewaspadai bantuan yang ditujukan untuk warga sipil dialihkan untuk mendukung pasukan Tigray, dan menuduh kelompok-kelompok kemanusiaan mempersenjatai para pejuang.

Perang di negara terpadat kedua di Afrika itu telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi. Upaya diplomatik yang didesak oleh Uni Afrika dan Amerika Serikat pekan ini dilaporkan hanya berpeluang kecil terhadap perdamaian.

Pada pertemuan virtual G7, Kepala Kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan ratusan ribu orang di Tigray mengalami kelaparan. Lowcock memperingatkan bahwa “kondisi ini akan menjadi jauh lebih buruk,” seraya mengatakan “yang terburuk masih dapat dihindari” apabila ada tindakan yang diambil segera. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Program Pangan Dunia PBB, dan UNICEF memperingatkan bahwa dua juta orang lainnya di Tigray “terancam tewas jika kelaparan terus terjadi.”

Lowcock menyesalkan fakta bahwa beberapa badan kunci PBB yang berusaha membantu, justru “pada dasarnya tidak punya uang.” “Kami benar-benar membutuhkan semua orang untuk membantu,” katanya. David Beasley, Kepala Program Pangan Dunia PBB, mengatakan banyak orang, terutama di daerah pedesaan, tidak dapat menerima bantuan karena kelompok bersenjata memblokir akses jalan. Badan-badan tersebut menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan, tetapi pertama-tama mereka membutuhkan akses ke wilayah yang hancur akibat konflik.