PM Australia Menolak Untuk Penghapusan Bahan Bakar Fosil

PM Australia Menolak Untuk Penghapusan Bahan Bakar Fosil

PM Australia Menolak Untuk Penghapusan Bahan Bakar Fosil – ANAK-anak muda di berbagai belahan dunia melakukan aksi untuk mendesak adanya tindakan darurat guna menghentikan bencana perubahan iklim. Mereka bersatu di bawah aktivis muda asal Swedia Greta Thunberg. Dengan cuaca yang tidak menentu bisa mendatangkan malapetaka di seluruh dunia.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menolak komitmen untuk penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap. Australia, salah satu eksportir batu bara dan gas terbesar di dunia, berada dalam tekanan komunitas internasional yang mendesak pengurangan emisi gas rumah kaca sebelum perhelatan COP26 di Skotlandia pada November nanti.

Dikutip dari Channel News Asia, Morrison mengaku belum siap untuk meninggalkan industri bahan bakar fosil yang menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar negara.

1. PM Australia mungkin tidak hadir pada COP26
Australia Akan Terus Menambang Batu Bara selama Ada Pembeli

Kemudian, Morrison menyampaikan bahwa ia mungkin tidak hadir pada pertemuan di Glasgow nanti. Hingga saat ini, Canberra juga belum membuat komitmen atau skema pengurangan gas rumah kaca bagi negaranya.

Sebaliknya, Morrison justru bersumpah untuk terus menambang dan mengekspor bahan bakar fosil selam ada embeli. “Kami belum membuat keputusan akhir,” kata dia soal kehadirannya di COP26.

“Saya telah melakukan beberapa perjalanan luar negeri tahun ini dan menghabiskan banyak waktu untuk karantina. Saya harus fokus pada hal-hal terkait COVID-19. Akan ada banyak masalah untuk dikelola dan saya harus memanajemen tuntutan yang bersaing itu,” papar Morrison.

2. Pengurangan penambangan akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat

ESDM: Upaya Reklamasi Lahan Bekas Tambang harus Dilakukan Secara Serius -  PORTONEWS

Di sisi lain, sebagaimana dikabarkan AFP, Wakil Perdana Menteri Barnaby Joyce menentang target emisi nol persen.

Joyce, yang partai nasionalnya mewakili sebagian besar pemilih pedesaan, mengatakan bahwa hasil dari industri pertambangan dan pertanian sangat penting bagi masyarakat urban.

“Pertimbangan kami adalah untuk memastikan tidak ada pekerjaan hilang. Anda harus ingat, bahan bakar fosil adalah ekspor terbesar negara Anda dan jika Anda menghentikan ekspor terbesar, maka Anda harus menerima standar hidup yang lebih rendah,” ujar Joyce.

3. Australia akan terus menggali batu bara
Australia Akan Terus Menambang Batu Bara selama Ada Pembeli

Ilmuwan iklim memperingatkan cuaca ekstrem dan kebakaran besar akan semakin lumrah karena pemanasan global.

Para pemerhati lingkungan juga berpendapat, kelambanan terhadap perubahan iklim dapat merugikan ekonomi Australia miliaran dolar, karena negara itu menderita kebakaran hutan, badai, dan banjir yang lebih hebat.

Morrison hanya mengatakan bahwa pemerintahannya memiliki rencana tentang perubahan iklim, tanpa memberikan keterangan mendetail. Terkait COP26, Menteri Luar Negeri Marise Payne menyampaikan, Australia sudah sangat terwakili dengan mengirimkan delegasinya sekalipun Morrison tidak hadir pada pertemuan tersebut.

“Segala sesuatu terus berjalan, segala sesuatu terus digali dari tanah untuk waktu yang cukup lama, Anda harus terus memproduksi barang-barang dan Anda harus terus membutuhkan serta mengonsumsi makanan,” terang dia.

Demonstrasi direncanakan di lebih dari 3.100 lokasi, dengan Australia, Jepang, dan Fiji sebagai beberapa lokasi pertama di mana aksi akan dimulai. Meski demikian, aksi dilakukan dengan pembatasan terkait pandemi, banyak aksi bergeser menjadi online.

Di Australia, ribuan pelajar mengikuti sekitar 500 perkumpulan kecil dan protes secara daring, guna mendesak investasi dalam energi terbarukan dan menolak pendanaan proyek-proyek minyak.

Penyelenggara aksi meminta orang-orang untuk mengunggah gambar di media sosial dan bergabung dengan panggilan Zoom global 24 jam, sementara mereka yang turun ke jalan harus mengikuti pedoman lokal tentang ukuran pertemuan dan jarak sosial.

Demonstrasi tersebut terjadi setahun setelah dua pemogokan global besar-besaran yang membuat lebih dari enam juta orang turun ke jalan. Menurut penyelenggara, hal itu merupakan mobilisasi iklim terbesar dalam sejarah.