Polandia Setuju Bangun Tembok di Perbatasannya & Belarusia

Polandia Setuju Bangun Tembok di Perbatasannya & Belarusia

Polandia Setuju Bangun Tembok di Perbatasannya & Belarusia – Republik Belarus atau Belarusia adalah sebuah negara di Eropa Timur dengan ibu kota Minsk. Negara ini secara administratif terbagi menjadi 6 provinsi  (voblast) dan sebuah kota khusus.

Berbatasan dengan Rusia di timur dan timur laut, Ukraina di selatan,  Polandia di barat, dan Lituania dan Latvia di barat laut. Parlemen Polandia  menyetujui membangun tembok senilai 353 juta euro (Rp5,8 triliun) di perbatasannya dengan Belarusia.

Tembok tersebut dibangun untuk mencegah gelombang migran yang masuk secara ilegal, kebanyakan para migran berasal dari Timur Tengah dan telah meningkat selama beberapa bulan terakhir.

1. Polandia memberlakukan keadaan darurat

Melansir dari BBC, tembok yang memakan banyak biaya ini akan memiliki dinding setebal 5,5 meter. Penghalang ini direncanakan mulai dibangun pada musim panas mendatang dan akan menutupi sekitar setengah panjang perbatasan Polandia dengan Belarusia, yang sekitar 400 km. Tembok akan dilengkapi dengan sensor gerak dan sistem pemantauan.

Rencana untuk membangun tembok ini diharapkan segera ditandatangani oleh Presiden Andrzej Duda dalam beberapa hari mendatang untuk menjadi undang-undang daturat. Polandia menanggapi banyaknya kedatangan migran ilegal melalui Belarusia dengan membangun pagar kawat berduri dan mengerahkan ribuan penjaga perbatasan, tentara, dan polisi untuk mendorong kembali para migran dan pengungsi kembali ke perbatasan, tapi tindakan itu gagal meghentikan arus migran.

Undang-undang Polandia yang baru akan melegalkan mendorong migran kembali. Tindakan Polandia menghalau migran dan membuat mereka kembali ke perbatasan ini telah menuai kritik tajam. Kelompok kemanusiaan telah mengigatkan pemerintah kondisi tersebut berbahaya.

Polandia telah memberlakukan keadaan darurat, yang secara efektif melarang jurnalis dan pekerja bantuan mengakses perbatasan. Langkah itu ditentang Uni Eropa (UE) yang menyerukan transparansi.

2. Sekitar 500 orang setiap hari menyeberang ke Polandia secara ilegal dari Belarusia
Parlemen Polandia Setuju Bangun Tembok Penghalang Migran

Polandia mengatakan saat ini sekitar 500 orang mencoba masuk secara ilegal setiap hari melalui Belarusia. Jumlah itu berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan sepanjang tahun lalu, hanya ada 120 migran yang menyeberang.

Beberapa migran dan pengungsi yang datang ke perbatasan, terutama dari Irak dan Suriah, meninggal karena kelelahan saat melintasi perbatasan sepanjang 400 km, yang melewati hutan, rawa, dan Sungai Bug.

Menurut PBB ada delapan migran yang tewas pada tahun ini ketika mencoba masuk ke negara UE melalui perbatasan Belarusia. Karena kematian migran PBB telah menyerukan tindakan segera untuk menyelamatkan nyawa dan menghindari penderitaan di perbatasan UE-Belarusia.

Melansir dari Associated Press, Polandia saat ini sedang dalam pembicaraan dengan badan perbatasan UE mengenai rencana memulangkan para migran ke negara asal mereka. Migran yang masuk ke negara UE mana pun dapat meminta perlindungan internasional, atau suaka yang akan mencakup seluruh UE, tetapi dalam banyak kasus permintaan sering ditolak.

3. UE menolak membiayai pembangunan tembok
Parlemen Polandia Setuju Bangun Tembok Penghalang Migran

Melansir dari France 24, Polandia merupakan salah satu dari 12 negara anggota yang meminta UE untuk memberikan bantuan dana untuk membangun tembok di perbatasan untuk menghentikan migran masuk, tetapi permintaan itu ditolak oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Pada pekan lalu Von der Leyen mengatakan kepada para pemimpin Eropa dalam pertemuan puncak di Brussels bahwa UE tidak akan memberikan pendanaan untuk pembangunan kawat berduri dan dinding yang bertujuan mencegah migran masuk.

Perdana Menteri Polandia, Mateusz Morawiecki pada hari Kamis mengatakan negaranya  “sedang diserang” dari Belarusia. Morawiecki menganggap pembangunan tembok penting untuk melindungi Polandia.

Belarusia dituduh UE sengaja mengatur gelombang migran memasuki negara UE melalui perbatasannya, yang dilakukan sebagai tindakan balasan atas sanksi UE terhadap rezim Presiden Alexander Lukashenko atas tindakan kerasnya terhadap lawan politik dan pengkritiknya.

Barbora Cernusakova, seorang peneliti di Amnesty International, mengatakan kepada BBC bahwa tembok tidak dapat menghalangi para migran karena bukan cara yang efektif, dia mengatakan kehadiran tembok hanya memberikan perbedaan kecil dan membuat perjalanan para migran semakin sulit.

Belarusia mencakup area seluas 207.600 kilometer persegi (80.200 mil persegi), dengan populasi 9,4 juta, dan merupakan negara terbesar ketiga belas dan kedua puluh terpadat di Eropa. Negara ini secara administratif dibagi menjadi tujuh wilayah, dan merupakan salah satu yang paling urban di dunia, dengan lebih dari 40% dari total luas daratannya adalah hutan.

Belarusia adalah negara berkembang dan merupakan negara kediktatoran  terakhir dibenua eropa dengan peringkat yang sangat tinggi dalam Indeks Pembangunan Manusia. Belarus telah menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak didirikan; dan anggota CIS, CSTO, EAEU, dan Gerakan Non-Blok, ia tidak menunjukkan aspirasi untuk bergabung dengan Uni Eropa tetapi tetap mempertahankan hubungan bilateral dengan UE, dan juga berpartisipasi dalam dua proyek UE: Kemitraan Timur dan Baku Initiative.