Taiwan Mengikuti Kebijakan Mencegah Infeksi Selama Pandemik

Taiwan Mengikuti Kebijakan Mencegah Infeksi Selama Pandemik

Taiwan Mengikuti Kebijakan Mencegah Infeksi Selama Pandemik – Ketika Taiwan sangat membutuhkan bantuan, mitra seperti Amerika Serikat, Jepang, Lituania, Republik Ceko, Slovakia, dan Polandia, serta fasilitas Covax yakni mekanisme alokasi global untuk vaksin covid-19, segera berjanji menyumbangkan atau memberikan vaksin.

Hasilnya, Taiwan secara bertahap dapat mengendalikan pandemi. Lembaga pemerintah Taiwan dan perusahaan swasta telah mengikuti kebijakan anti-pandemik COVID-19 untuk mencegah infeksi klaster selama pandemik.

Orang-orang mulai bekerja di rumah, sekolah mengadopsi pembelajaran virtual, konsumen beralih ke e-commerce, dan platform layanan pemesanan dan pengiriman makanan online berkembang pesat. Commissioner Criminal Investigation Bureau (CIB) Republic of China (Taiwan) Huang Chia-lu mengatakan, pandemik telah menyebabkan perubahan dalam kehidupan manusia.

1. Keamanan siber akan menjadi tugas krusial pada era pascapandemik
Taiwan Bantu Perangi Kejahatan Dunia Maya

Huang Chia-lu mengatakan ketergantungan pada teknologi siber juga membuat kelompok kriminal lebih mudah mengeksploitasi kerentanan keamanan, untuk melakukan tindakan kejahatan.

“Oleh karena itu, keamanan siber akan menjadi tugas krusial di era pascapandemik untuk menjaga keselamatan publik di seluruh dunia,” ungkapnya.

Karena kejahatan dunia maya tiada batas negara, Huang Chia-lu melanjutkan, korban, pelaku, dan tempat kejadian perkara (TKP) mungkin berada di negara berbeda. Kejahatan dunia maya yang paling umum adalah penipuan telekomunikasi, yang memanfaatkan internet dan teknologi telekomunikasi lainnya.

“Kerja sama antarnegara diperlukan untuk membawa sindikat penjahat internasional ke pengadilan,” kata dia.

2. Taiwan bantu operasi penipuan telekomunikasi di Montenegro

Polisi Taiwan Mematahkan Jaringan Penipuan Telekomunikasi yang Menargetkan  Pekerja Migran | HoLiDay

Huang Chia-lu mencontohkan, pada 2020, polisi Taiwan menggunakan analitik data besar untuk mengidentifikasi beberapa warga negara Taiwan yang dicurigai melakukan operasi penipuan telekomunikasi di Montenegro.

Taiwan menghubungi Montenegro dan mengusulkan bantuan hukum timbal balik, yang memungkinkan Montenegrin Special State Prosecutor’s Office untuk melanjutkan kasus ini.

“Melalui upaya bersama, pasukan polisi Taiwan dan Montenegrin mengungkap tiga operasi penipuan telekomunikasi, dan menangkap 92 tersangka yang dituduh menyamar sebagai pejabat pemerintah, polisi, dan jaksa dari China. Jumlah korban penipuan lebih dari 2.000, menyebabkan kerugian materi mencapai 22,6 juta dolar AS.

Para tersangka adalah warga negara Taiwan, dengan korbannya warga negara China. Dugaan kejahatan terjadi di Montenegro dan dilakukan melalui teknologi telekomunikasi.

“Berkat kerja sama di antara polisi dua negara Montenegro dan Taiwan, para tersangka berhasil ditangkap, agar tidak memakan korban yang lebih banyak lagi,” katanya.

3. Eksploitasi dan pornografi anak
Tiga Pelaku Pornografi Anak Dulunya Adalah Korban, Lalu... - Metro Tempo.co

Contoh lain, pada 2019, polisi Taiwan menerima informasi dari jaringan pribadi virtual CyberTipline Pusat Nasional AS untuk Anak Hilang dan Tereksploitasi, yang mengindikasikan seorang warga negara Afrika Selatan di Taiwan dicurigai telah mengunggah sejumlah besar pornografi anak ke internet.

Polisi Taiwan dengan cepat menemukan tersangka dan menggeledah kediamannya berdasarkan situasi yang dilaporkan, serta menyita barang bukti pornografi anak. Polisi juga menemukan foto dan video tersangka melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak Taiwan.

“Kasus ini dapat teratasi berkat kerja sama antarnegara dan berbagi intelijen kriminal, sehingga dapat secara efektif mengurangi kasus kejahatan,” kata Huang Chia-luT.

4. Kejahatan dunia maya melibatkan investigasi lintas batas

Kejahatan Dunia Maya Merebak saat Pandemi, Taiwan Berperan Beri Bantuan -  Medcom ID

Huang Chia-lu menegaskan kejahatan dunia maya melibatkan investigasi lintas batas. Seperti COVID-19, kejahatan dunia maya dapat menyerang individu di negara mana pun.

Oleh karena itu, memerangi kejahatan dunia maya komputer sama halnya dengan memerangi pandemik, membutuhkan kerja sama dari pasukan polisi internasional yang membantu dan berbagi informasi satu sama lain.

“Hanya dengan demikian, sebagian besar kasus kriminal dapat dicegah dan diselesaikan secara efisien, dan masyarakat di seluruh dunia bisa menikmati kehidupan yang lebih aman,” kata Huang Chia-lu.

Otoritas kepolisian Taiwan memiliki Unit Investigasi Kejahatan Teknologi Tinggi khusus dan penyelidik kejahatan dunia maya profesional. Biro Investigasi Kriminal (CIB) di bawah Kantor Kepolisian Nasional Kementerian Dalam Negeri, juga mendirikan Lab Forensik Digital yang memenuhi standar internasional.

Laboratorium ini mendapatkan akreditasi ISO/IEC 17025 pertama di dunia untuk Analisis Program Windows oleh Yayasan Akreditasi Taiwan. Pada 2021, CIB menstandarisasi prosedur analisis malware, selain menetapkan analisis file dan mekanisme analisis jaringan. Keahlian Taiwan dalam memerangi kejahatan dunia maya akan bermanfaat bagi upaya global untuk membangun ruang maya yang lebih aman.