Brasil Salahkan Tiongkok Karena Gagal Tangani COVID-19

Brasil Salahkan Tiongkok Karena Gagal Tangani COVID-19

Brasil Salahkan Tiongkok Karena Gagal Tangani COVID-19 – Corona virus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).

Republik Federatif Brasil atau Republik Federal Brasil ( adalah negara paling besar dan paling banyak penduduknya(204.5 juta jiwa pada tahun 2017) di Amerika Selatan. Presiden Brasil Jair Bolsonaro kembali melontarkan pernyataan yang kontroversial. Kali ini, dia menyebut COVID-19 sebagai senjata biologis yang dibuat di laboratorium Tiongkok.

Alih-alih menyebut pandemik sebagai krisis kesehatan global, pemimpin sayap kanan itu lebih memilih untuk menggunakan istilah perang biologis. “Tapi militer tahu semua tentang perang kimia, biologi, radiologi. Bisakah kita menghadapi peperangan baru?” tutur Club388 Indonesia, ungkapan yang kemungkinan akan membebani hubungan Brasil Tiongkok.

1. Menuduh atas dasar pertumbuhan ekonomi Tiongkok
Gagal Tangani Pandemik COVID-19, Brasil Malah Salahkan Tiongkok

Bukannya tanpa dasar, alasan Bolsonaro menuduh Tiongkok sebagai dalang penyebar virus adalah pertumbuhan ekonominya. Kendati tidak secara spesifik menyebut Tiongkok, tapi Negeri Tirai Bambu menjadi satu-satunya negara G20 yang ekonominya mengalami pertumbuhan tahun lalu, mencatatkan ekspansi 2,3 persen.

“Aku penasaran, PDB negara mana yang tumbuh paling besar?” sindir Bolsonaro, merujuk pada Beijing.

2. Analisis WHO bantah soal kebocoran laboratorium

Bolsonaro dan lingkaran politiknya memiliki riwayat komentar yang menghasut Tiongkok, yang terkadang memperburuk hubungan dengan mitra dagang terbesar Brasil.

Teori bahwa COVID-19 muncul di laboratorium virologi di kota Wuhan adalah topik yang sensitif bagi Tiongkok, tetapi menjadi isu favorit pendukung garis keras Bolsonaro dan panutan politiknya, mantan presiden AS Donald Trump.

Laporan World Health Organization (WHO) menyimpulkan, pada bulan Maret, bahwa sangat tidak mungkin virus itu berasal dari laboratorium. Namun, para ahli WHO mengalami kesulitan mengakses data mentah saat mengunjungi Wuhan. Alhasil, mereka belum bisa menyimpulkan sumber virus ini berasal.

Teori yang paling kuat sejauh ini adalah virus berasal dari kelawar. Namun, mereka belum mengetahui dengan pasti, bagaimana dan hewan apa yang menjadi perantara pembawa virus antara kelelawar dengan manusia.

3. Krisis kepercayaan terhadap Bolsonaro

Gagal Tangani Pandemik COVID-19, Brasil Malah Salahkan Tiongkok

Di dalam negeri, krisis publik terhadap Bolsonaro semakin meningkat. Brasil menjadi salah satu negara dengan penanganan pandemik terburuk di dunia. Lebih dari 414 ribu orang meninggal akibat virus corona.

Di sisi lain, Bolsonaro menentang keras permintaan otoritas lokal dan pakar kesehatan untuk memberlakukan karantina wilayah. Dia bahkan mengancam akan mengeluarkan peraturan yang melindungi orang untuk berkunjung dari rumah ke rumah.

Bolsonaro berdalih, dampak ekonomi akibat pembatasan nasional akan lebih buruk daripada ancaman virus corona itu sendiri. Kendati begitu, Mahkamah Agung Brasil telah memberikan kewenangan kepada negara bagian dan kota untuk menerapkan karantina wilayah.

“Saya berharap kepada Tuhan, saya tidak perlu mengeluarkan keputusan itu. Tapi jika saya melakukannya, itu akan dilakukan dengan semua kekuatan yang dimiliki menteri saya, dan tidak ada yang lebih berani menantangnya,” tegasnya.