Gejolak Politik di Sudan Memanas & Menentang Kudeta Militer

Gejolak Politik di Sudan Memanas & Menentang Kudeta Militer

Gejolak Politik di Sudan Memanas & Menentang Kudeta Militer – Republik Sudan adalah negara yang terletak di timur laut benua Afrika. Sebelum referendum yang memisahkan Sudan menjadi dua bagian, Sudan merupakan negara ketiga terluas di Afrika, serta terluas keenam belas di dunia. Negara ini berbatasan dengan Mesir di utara, Laut Merah di timur laut, Eritrea di timur.

Ethiopia di tenggara, Afrika Tengah di barat daya, Chad di barat, Libya di barat laut, dan Sudan Selatan di selatan. Sungai Nil yang merupakan sungai terpanjang di dunia. Gejolak politik di Sudan terus memanas dan rakyat yang menentang kudeta militer terus melanjutkan demonstrasi. Ribuan orang turun ke jalan dan dikabarkan 15 demonstran tewas ditembak.

Kudeta di Sudan terjadi pada akhir Oktober 2021. Jenderal militer Abdel Fattah al-Burhan mengambil alih pemerintahan dan menggulingkan Perdana Menteri Abdalla Hamdok. Abdalla Hamdok adalah seorang ekonom berpengalaman dari elemen sipil, yang diharapkan dapat membawa Sudan bertransisi menjadi negara demokratis. Kini, harapan itu sepertinya pudar.

1. Pasukan keamanan menggunakan gas air mata dan peluru tajam

Demonstrasi penolakan anti-kudeta yang dilakukan rakyat Sudan pada Rabu menjadi hari paling mematikan sepanjang protes terjadi. Menurut Reuters,  pejabat medis setempat mengatakan ada 15 orang yang tewas ditembak oleh pasukan keamanan.

Ribuan demonstran yang turun ke jalan tersebar di tiga daerah, yakni ibu kota Khartoum, kota Bahri, dan kota Omdurman. Mereka menolak kudeta militer dan menuntut penyerahan penuh kekuasaan kepada otoritas sipil. Mereka juga menuntut pemimpin kudeta pada 25 Oktober diadili.

Demonstrasi besar yang terus digelar mendapatkan tantangan dari pasukan keamanan. Pasukan menggunakan gas air mata dan peluru tajam untuk menghalau peserta protes.

Tenaga medis di Komite Pusat Dokter Sudan (CCSD) mengatakan, “pasukan kudeta menggunakan peluru tajam di berbagai daerah di ibu kota dan ada puluhan (orang mengalami) luka tembak, beberapa di antaranya dalam kondisi serius.

Sebagian besar korban yang tewas adalah demonstran yang melakukan protes di kota Bahri.

2. Korban tewas selama protes hampir 40 orang

Pada Senin, CCSD menjelaskan bahwa korban demonstrasi anti-kudeta terus mengalami peningkatan. Saat itu, menurut catatan mereka, demonstran yang meninggal ada 23 orang.

Selain itu, lebih dari 200 orang terluka dan sekitar 100 orang terkena luka tembak.

Menurut Al Jazeera, saat ini jumlah korban tewas dari pihak demonstran sudah mencapai 38 orang. CCSD mengatakan beberapa korban yang tewas di kota Bahri, terkena tembakan di kepala, leher atau dada.

CCSD dalam sebuah pernyataan mengatakan, pasukan keamanan menggunakan peluru tajam di berbagai wilayah ibu kota. Ada beberapa korban yang menderita luka tembak, beberapa di antaranya dalam kondisi serius.

Polisi Sudan menyangkal bahwa pasukan keamanan menggunakan peluru tajam untuk menghalau demonstran. Dalam siaran televisi pemerintah, dikabarkan akan segera dilakukan penyelidikan mengenai kematian peserta protes.

3. Para migran Sudan di Israel takut dideportasi

Dikutip dari Haaretz, barisan demonstran yang turun ke jalan pada Rabu, menuntut penyerahan kekuasaan kepada otoritas sipil. Mereka diorganisasi oleh “kelompok perlawanan.” Di salah satu jalan raya di ibu kota Khartoum, para peserta protes anti-kudeta membakar ban sambil meneriakkan slogan, “rakyat lebih kuat, mundur tindak mungkin!” Selain di tiga kota utama, protes juga meluas di Port Sudan, Kassala, Dongola, Wad Madani, dan Geneina.

Di sisi lain, para migran Sudan yang berada di Israel takut dideportasi. Israel dan Sudan melakukan normalisasi hubungan tahun lalu dan membuat mereka khawatir akan kehilangan status migran, sehingga dipaksa untuk kembali ke negaranya yang saat ini mengalami kudeta.

Menurut Associated Press, salah satu migran Sudan yang berada di Isral bernama Monim Haroon mengatakan, “saya tidak menentang normalisasi. Tetapi normalisasi harus melalui pemerintah sipil Sudan, bukan kekuatan militer yang sekarang mengendalikan Sudan.”

Saat ini ada sekitar 28 ribu migran dari Sudan dan Eritrea di Israel. Sebagian besar di antaranya mencari perlindungan di Israel pada 2005 karena konflik. Pada 2012, Israel mendeportasi sekitar 1.000 migran setelah Sudan meraih kemerdekaan.

Panglima angkatan bersenjata Sudan Abdel Fattah al-Burhan mengatakan dia melakukan kudeta militer menggulingkan pemerintah sipil dengan alasan untuk menghindari perang saudara. Namun para pengunjuk rasa turun ke jalan pada Selasa untuk berdemonstrasi menentang kudeta militer setelah sehari bentrokan mematikan.

Kudeta militer pada hari Senin menghentikan transisi Sudan ke demokrasi, dua tahun setelah pemberontakan rakyat menggulingkan otokrat Islam lama yang berkuasa Omar al-Bashir.

Berbicara pada konferensi pers pertamanya sejak mengumumkan pengambilalihan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengatakan tentara tidak punya pilihan selain mengesampingkan politisi yang menghasut melawan angkatan bersenjata. Dia mengatakan tindakan militer tidak berarti kudeta.