Indonesia Terus Menanti Perkembangan & Perubahan di Myanmar

Indonesia Terus Menanti Perkembangan & Perubahan di Myanmar

Indonesia Terus Menanti Perkembangan & Perubahan di Myanmar – Pada pertengahan September lalu, ratusan orang yang menentang kekuasaan militer di Myanmar mengungsi ke negara bagian Mizoram, India. Pertempuran sengit antara junta militer dan pasukan oposisi memaksa mereka untuk minggat ke negara tetangga.

India dan Myanmar diketahui berbagi perbatasan sepanjang 1.600 kilometer. Dan negara bagian Mizoram mencakup hampir sepertiga perbatasan tersebut.
DW pun berkesempatan bertemu langsung dengan para pengungsi di salah satu desa di distrik Hnahthial yang terletak di negara bagian Mizoram. Mereka yang melarikan diri dari kekerasan militer ditampung di sana.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Retno Marsudi, mengungkap bahwa mayoritas anggota ASEAN kecewa dengan implementasi konsensus lima poin (five-point consensus) yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan setingkat menteri luar negeri Asia Tenggara pada. Ada lima hal yang dibahas pada pertemuan tersebut, salah satunya adalah situasi terkini di Myanmar.

1. Indonesia mengapresiasi kinerja utusan khusus ASEAN
Indonesia Kecewa Tidak Ada Perkembangan Signifikan di Myanmar

Pada pertemuan tersebut, Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar, Menlu II Brunei Darussalam Eryawan Yusof, juga menyampaikan sejumlah pencapaian dan tantangan dalam membantu memulihkan situasi di negara yang dilanda kekacauan politik sejak 1 Februari 2021 itu.

Kendati kecewa dengan implementasi five-point consensus yang tidak sesuai harapan, Retno mengapresiasi kinerja Eryawan yang telah berupaya untuk memasuki Myanmar.

“Utusan Khusus menyampaikan adanya tantangan, termasuk masalah kunjungan dan akses untuk bertemu dengan semua pihak. Di dalam pertemuan, saya menyampaikan apresiasi atas upaya Utusan Khusus untuk mendorong pelaksanaan five-point consensus,” ujar Retno.

Pernyataan di atas merujuk pada sikap junta beberapa hari lalu, yang melarang Eryawan untuk menemui Aung San Suu Kyi, pemimpin sipil yang dikudeta. Junta beralasan melarang pihak internasional untuk berkomunikasi dengan seseorang yang sedang menjalani persidangan.

2. Junta Myanmar dianggap tidak berkomitmen
Indonesia Kecewa Tidak Ada Perkembangan Signifikan di Myanmar

Kekecewaan Retno juga diarahkan kepada penguasa Myanmar, yang tidak memberikan tanggapan positif atas itikad baik ASEAN dan utusan khususnya.

“Menurut Indonesia, sudah waktunya para Menlu ASEAN melaporkan situasi ini kepada sembilan pemimpin ASEAN, guna mendapatkan arahan engagement ASEAN dengan Myanmar terutama terkait pelaksanaan KTT ke-38 dan 39 ASEAN,” ujar Retno.

Dia menyambung, “Indonesia juga menyampaikan beberapa artikel dalam Piagan ASEAN yang dapat digunakan untuk memandu bagaimana ASEAN dapat bersikap dalam menangani isu Myanmar ini.

3. Bantuan kemanusiaan telah didistribusikan ke Myanmar
Indonesia Kecewa Tidak Ada Perkembangan Signifikan di Myanmar

Pertemuan tersebut juga menjadi sarana Eryawan untuk melaporkan distribusi bantuan kemanusiaan. Sejauh ini, bantuan kemanusiaan gelombang pertama berupa peralatan kesehatan senilai 1,1 juta dolar AS (sekitar Rp15,6 miliar) telah diberikan ke Myanmar pada 18 Agustus lalu.

“Bantuan telah disampaikan pada Myanmar Red Cross Society (MRSC). MRSC telah mendistribusikan oksigen kepada empat Rumah Sakit di bulan September dan berbagai alat kesehatan ke lima Rumah Sakit,” terang Retno.

Selain itu, Retno juga menginformasikan bahwa ASEAN bersama AHA Centre sedang bekerja sama dengan UNICEF dan UNOCHA, untuk menjajaki kemungkinan pelaksanaan program vaksinasi COVID-19 di Myanmar.

Warga Myanmar melarikan diri ke desa-desa terdekat di India. Salah satunya adalah Desa Thingsai di negara bagian Mizoram, tidak jauh dari perbatasan.
Untuk sampai ke wilayah perbatasan India, warga Myanmar harus menyeberangi Sungai Tiau – yang menjadi bagian dari perbatasan internasional kedua negara.

Pawan Singh, seorang anggota paramiliter Assam Rifles yang bertugas menjaga sisi perbatasan India yang ditemui DW mengatakan, ada sekitar 20-25 orang yang melintasi perbatasan setiap harinya sejak kekerasan di Myanmar pecah pada pertengahan September lalu.