Kembali Terjadi Serangan di Republik Demokratik Kongo

Kembali Terjadi Serangan di Republik Demokratik Kongo

Kembali Terjadi Serangan di Republik Demokratik Kongo – Republik Demokratik Kongo (kadang disebut sebagai RD Kongo, RDK, Kongo Kinshasa, atau Kongo saja; sebelumnya bernama Zaire antara tahun 1971 dan 1997) adalah sebuah negara di Afrika Tengah. Negara ini berbatasan dengan  Republik Afrika Tengah dan Sudan Selatan di sebelah utara; Uganda, Rwanda, Burundi, dan Tanzania di timur; Zambia dan Angola di selatan; dan Republik Kongo di Barat.

Perang bersaudara berlangsung berkepanjangan di Kongo sejak 1998 yang menghancurkan serta menyeret seluruh wilayah tersebut dan negara-negara di sekitarnya. Aksi kekerasan tersebut telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian negara tersebut hingga akhirnya PBB mengambil alih permasalahan di negara itu dan memaksa Presiden Joseph Kabila menyelenggarakan Pemilihan Umum pada 30 Juli 2006. Serangan bersenjata kembali memuncak di Republik Demokratik Kongo pada Senin (31/5/2021), dengan terjadinya penyerangan yang menewaskan puluhan orang oleh kelompok bersenjata terhadap dua desa di Provinsi Ituri yang terletak di Kongo bagian timur.

Perang saudara dan pemberontakan yang telah lama berkecamuk di Kongo mulai memasuki tahap kekacauan yang baru, sebagaimana yang disampaikan oleh lembaga penelitian Kivu Security Tracker (KST). Pejabat lokal kongo mengenai Deposit IDN Poker Pakai Dana pembataian yang dilakukan pasukan pemberontak Allied Democratic Forces (ADF), seperti yang dikutip dari Reuters.

1. Sekitar 53 orang menjadi korban

Republik Demokratik Kongo umumkan pengepungan karena serangan militan - ANTARA News

Berdasarkan laporan yang disampaikan Al Jazeera, militer Kongo memperkirakan setidaknya 53 orang dinyatakan terbunuh dalam aksi penyerangan oleh sebuah kelompok bersenjata yang masih diburu hingga sekarang. Tetapi, pejabat lokal di Provinsi Ituri melaporkan lebih dari 60 orang yang tewas akibat serangan tersebut.

Setidaknya tujuh mobil truk diperlukan untuk membantu pengangkutan jenazah warga sipil yang dibunuh dengan sadis keluar dari lokasi kejadian. Anak-anak, perempuan, dan orang tua, dikabarkan ikut menjadi target pembantaian. Salah satu saksi mata menyebutkan para penyerang terlihat dengan sengaja membunuh seorang pastor dan melukai anaknya yang masih dalam perawatan intensif.

2. Serangan yang terkoordinasi

Sampai saat ini, pemerintah Kongo belum dapat memastikan siapa yang bertanggung jawab atas serangan dan pembantaian terkoordinasi di Provinsi Ituri tersebut. Meskipun begitu, masyarakat dan pejabat lokal yang berada di lokasi, menyebut prajurit pemberontak dari ADF sebagai dalang utama pembantaian tersebut, seperti dilansir Al Jazeera.

ADF diketahui bergerak aktif di sekitar perbatasan Provinsi Ituri dan Kivu Utara. Mereka dikabarkan memiliki afliasi dengan kelompok teroris terlarang, yaitu ISIS. Oleh sebab itu,  pemerintah Amerika Serikat melabeli ADF sebagai kelompok teroris sejak Maret 2021.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ternyata juga sudah lama mengawasi pergerakan ADF. Berdasarkan laporan tahunan PBB pada 2020, pasukan ADF sudah membantai kurang lebih 850 orang di berbagai daerah di Kongo bagian Timur sebagai aksi pembalasan terhadap operasi militer yang dilakukan pemerintah Kongo.

3. Intelijen asing siap membantu Kongo
Fakta Terkini Gejolak di Republik Demokratik Kongo, Korban Berjatuhan!

Presiden Republik Demokratik Kongo, Felix Tshisekedi, menetapkan kondisi darurat militer di Provinsi Ituri dan Kivu Utara pada 1 Mei 2021, setelah meningkatnya aksi serangan oleh pasukan pemberontak. Pemerintah Kongo mendapat berita baik dari negara tetangganya yang sebelumnya pernah diduga mendukung aksi pemberontakan di Kongo.

Dikutip dari Reuters, pemerintah Uganda memberikan dukungan mereka kepada operasi militer yang dilakukan Pasukan Kongo di bagian timur. Mereka berbagi data atau informasi intelijen atas pergerakan seluruh pasukan pemberontak di wilayah timur Kongo. Namun, Uganda memastikan bahwa mereka belum mempertimbangkan pengiriman pasukannya untuk mengintervensi langsung di Kongo, meski sudah mendapat lampu hijau dari tuan rumah.

Kondisi Republik Demokratik Kongo yang semakin kacau hari demi hari membuat banyak warga negaranya yang mengungsi ke negara tetangga dan melancong jauh hingga Eropa dan Amerika Serikat. Instabilitas politik dan ekonomi di Kongo yang terus berlanjut akan menjadi cobaan terberat yang harus dihadapi Presiden Felix Tshisekedi dan kabinetnya guna memastikan kerberlangsungan negara mereka.

Sejak tahun 1996, Republik Demokrasi Kongo mengalami konflik yang tidak kunjung usai. Diawali dengan Perang Kongo pertama yang merupakan sebuah upaya kudeta atas rezim Mobutu yang diktator. Dilanjutkan dengan perang kongo kedua yang merupakan upaya kudeta pula atas pemerintahan Laurent Kabila.

Perang tersebut secara resmi berakhir pada tahun 2003, setelah disepakati perjanjian damai Lusaka dan Accord Global et Inclusif (AGI). Akan tetapi konflik dan kekerasan di DRC masih berlangsung hingga saat ini. Disebut-sebut sebagai perang dunia pertama di Afrika, konflik di DRC ini memakan jutaan korban jiwa dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi.