Pemerintah Jerman Kerahkan Polisi Menghalau Imigran Ilegal

Pemerintah Jerman Kerahkan Polisi Menghalau Imigran Ilegal

Pemerintah Jerman Kerahkan Polisi Menghalau Imigran Ilegal – Jerman tetap menjadi tujuan utama bagi orang-orang yang mencari perlindungan di Eropa. Jumlah permohonan suaka yang diajukan ke Jerman sudah melebihi angka 100.000 pada tahun 2021. Kantor Federal Jerman untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF) mengatakan bahwa pada akhir September telah menerima 100.278 aplikasi awal dari pencari suaka.

Angka ini berarti 35,2% lebih banyak daripada periode yang sama tahun lalu. Pemerintah Jerman pada Minggu (24/10/2021) telah mengirimkan ratusan personel kepolisian ke perbatasan Polandia. Hal ini terkait adanya aksi patroli yang dilakukan kelompok radikal sayap kanan yang mencoba meghalau imigran ilegal yang masuk ke Jerman.

Beberapa bulan terakhir, Polandia, Lithuania dan Latvia tengah didatangi ribuan migran asal Irak dan Afghanistan untuk mencari kehidupan layak di Uni Eropa. Namun, ketiga negara menyebut Belarusia dan Rusia ada di balik serbuan migran ini.

1. Kepolisian Jerman sudah menangkap 50 aktivis sayap kanan

Aparat kepolisian yang berjaga di perbatasan Polandia berhasil menangkap sebanyak 50 aktivis sayap kanan Neo Nazi yang berpatroli untuk menangkap imigran ilegal. Bahkan, beberapa di antara para aktivis membawa senjata tajam, seperti tongkat pemukul dan senjata tajam.

Adanya kelompok sayap kanan ini, membuat aparat kepolisian harus melakukan penjagaan semalaman penuh, terutama di sekitaran Kota Guben. Diketahui puluhan aktivis itu kabur begitu melihat datangnya aparat keamanan.

Sementara itu, seluruh senjata yang digunakan para aktivis untuk menghalau imigran ilegal itu sudah disita dan diamankan oleh aparat kepolisian. Nantinya, masing-masing individu akan diproses lebih lanjut terkait dugaan kepemilikan barang ilegal, dilansir dari laman RT.

2. Adanya perlawanan dari kelompok sayap kiri di Guben

Dikutip dari DW, puluhan simpatisan sayap kiri juga sudah berkumpul di Guben yang terletak di pinggir Sungai Neisse yang membatasai Jerman dan Polandia. Mereka berkumpul untuk menolak dan melawan para aktivis sayap kanan yang melakukan patroli untuk menangkap imigran ilegal.

“Kami tidak ingin wilayah ini jatuh ke tangan Neo-Nazi. Kami ingin mengirimkan tanda bahwa suaka akan terus ada dan mempertahankan hak asasi manusia” ungkap salah satu anggota simpatisan sayap kiri.

Perdana Menteri Saxony, Michale Kretschmer dalam CNN, pada Sabtu turut mengecam aksi patroli dan menolak adanya kelompok ekstremis sayap kanan. “Jerman adalah negara Kristiani. Kami adalah manusia dan kami harus memperlakukan mereka selayaknya manusia. Kami harus memotong posisi ekstremis sayap kanan” kata Kretschmer.

3. 800 aparat kepolisian sudah diterjunkan ke perbatasan Polandia

Pada Minggu (24/10/2021) Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer mengungkapkan bahwa petugas kepolisian di perbatasan Polandia sudah ditambah sebanyak 800 orang. “Ratusan polisi sudah berjaga siang dan malam di lokasi tersebut. Apabila dibutuhkan, nantinya saya akan menyiapkan kembali pasukan untuk diterjunkan” tambahnya.

Selain itu, pada minggu lalu, Seehofer mengatakan jika tidak ada rencana untuk menutup perbatasan dengan Polandia, tapi hanya akan mengontrol ketat perbatasan. Hal ini dilakukan menanggapi serbuan imigran ilegal Timur Tengah di perbatasan Polandia-Belarusia, dilaporkan dari CNN.

Menteri berusia 72 tahun itu juga menyebut bila, sepanjang tahun 2021 ini, tercatat sudah ada 6.162 orang yang masuk secara ilegal ke teritori Jerman dari Belarusia dan Polandia. Pihak Uni Eropa menduga ini merupakan bentuk balasan dari Belarusia terkait sanksi yang diberikan, dikutip dari DW.

Belarus menjadi jalur migrasi utama dalam beberapa bulan terakhir sebagai akibat dari perselisihannya dengan Uni Eropa (UE). Negara-negara UE menuduh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko dengan sengaja mendorong para migran dari daerah krisis, yang kemudian dibawa ke perbatasan dengan Polandia, Latvia atau Lithuania dan secara ilegal didorong ke wilayah UE.

Langkah Lukashenko ini diduga untuk membalas sanksi yang dijatuhkan UE karena tindakan keras rezim Belarus terhadap gerakan pro-demokrasi negara itu. Surat kabar Jerman Welt am Sonntag mengutip sumber-sumber dalam badan intelijen UE, Europol, yang mengatakan bahwa Belarus sekarang membantu warga negara Suriah untuk terbang langsung ke Minsk dari Damaskus.