Pemimpin Oposisi Kuba Ditangkap Aparat Keamanan Setempat

Pemimpin Oposisi Kuba Ditangkap Aparat Keamanan Setempat

Pemimpin Oposisi Kuba Ditangkap Aparat Keamanan Setempat – Guillermo Fariñas Hernández (lahir 3 Januari 1962) (“El Coco”) adalah seorang dokter psikologi, jurnalis independen dan pembangkang politik di Kuba. Ia telah melakukan 23 mogok makan sepanjang tahun untuk memprotes berbagai unsur rezim Kuba.

Ia telah menyatakan bahwa ia siap mati dalam berjuang melawan penyensoran di Kuba. Seorang pemimpin gerakan oposisi FANTU (Frente Antitotalitario Unido) Kuba, Guillermo Fariñas pada ditangkap oleh aparat keamanan setempat. Padahal menurut pihak keluarga tidak ada alasan dan penjelasan lebih lanjut terkait aksi penangkapan ini.

Tindakan ini tentu meningkatkan isu otoristerisme di Kuba lantaran kembali adanya penangkapan pihak oposisi. Pasalnya kelompok FANTU terus melakukan protes untuk merubah sistem dan rezim di Kuba.

1. Ditangkap di rumahnya sendiri di Santa Clara

Guillermo Fariñas (59) ditangkap oleh aparat keamanan Kuba pada Rabu saat berada di rumahnya sendiri pada pagi hari pukul 09.00 di Santa Clara, sekitar 280 km dari ibu kota Havana. Menurut ibunya, Alicia Hernández menyebutkan jika tidak diketahui penyebab utama penangkapan pemimpin oposisi Kuba itu.

Bahkan menurut ibunya, Fariñas selama ini tidak pernah keluar dari kediamannya. Maka dari itu, ibunya dan saudara perempuannya yang selalu merawatnya dengan membawakan makanan dan segala keperluannya.

Hernandez juga menjelaskan bahwa pemimpin organisasi FANTU itu merupakan salah satu pemimpin oposisi Kuba yang cukup santer menyuarakan penolakannya. Ia terkenal setelah mendapatkan penghargaan Sajarov Prize atas perjuangannya dalam membela hak asasi manusia.

Namun, Fariñas bukanlah tokoh oposisi Kuba pertama yang mampu meraih penghargaan tersebut. Sebelumnya penghargaan sudah diberikan kepada Oswaldo Payá (2002) dan Las Damas de Blanco (2005), dilansir dari Market Research Telecast.

2. Fariñas kerap menggelar aksi mogok makan di Kuba

Diberitakan dari Mercopress, Guillermo Fariñas selama ini sudah dikenal atas bentuk protes terhadap Pemerintah Kuba dengan aksi mogok makan. Namun aksi terakhirnya dilakukan pada 2016, yang berlangsung selama 54 hari untuk memrotes rezim Kuba yang dipimpin Castro bersaudara atas tekanan terhadap para pembelot.

Namun aksi yang membuatnya begitu populer ketika mampu melakukan aksi mogok makan selama 134 hari di tahun 2010. Bahkan aksi mogok makan yang dilakukan seorang jurnalis dan psikologis itu sempat membuatnya hampir meninggal.

Meskipun begitu, mulanya Fariñas merupakan sosok pendukung Revolusi Kuba. Namun, pada 1989, ia berbalik menantang otoriterisme Fidel Castro dan pada 1992, ia mulai bergabung dengan Democratic Cuba, Jose Marti. Mulai saat itu, ia dikenal sebagai tokoh utama oposisi penentang Castro dan kroni-kroninya.

3. Adanya surat kepada Komisi HAM PBB terkait pelanggaran HAM di Kuba

Menurut laman Diario de Cuba dalam Mercopress, penahanan Fariñas ini dilakukan setelah organisasi Democratic Cuba di AS meminta Komisi HAM PBB, Michelle Bachelet untuk melakukan investigasi. Organisasi itu menuding terdapat pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan rezim Castro dan menyebabkan demonstrasi besar di negara Karibia itu pada 11 Juli lalu.

“Ini tidak dapat diterima bahwa Anda dan kantor Anda hanya berdiri pada jabatan tertinggi dalam mendukung hak asasi manusia. Namun kalian tetap diam, yang mana menggambarkan kalian ikut terlibat dalam pelanggaran yang dilakukan pelaku” isi surat kepada Bachelet.

Di sisi lain, Guillermo Fariñas yang sudah puluhan tahun berjuang, juga sudah berkali-kali ditangkap dan ditahan oleh otoritas Kuba. Pada tahun 2020 lalu, ia ditangkap saat akan pergi ke Eropa. Hal itu menyebabkan buruknya hubungan antara Kuba dan Uni Eropa.

Fariñas menjalani pelatihan pasukan khusus dengan pelatih Cina, Korea, dan Vietnam. Pada tahun 1980 ia dikerahkan ke Angola , di mana ia bertempur di bawah Kolonel Antonio Enrique Luzon. Sebagai prajurit pasukan khusus di Komando Pembongkaran, Penetrasi, dan Sabotase, ia berpartisipasi dalam sebelas misi ke barisan belakang UNITA, di mana ia menerima penghargaan militer. 

Dia menerima dua luka tembak. Pada tahun 1981 Farias pergi ke Uni Soviet ke Tambov di mana ia belajar di Akademi Lintas Udara tetapi, karena kelalaian resmi, menderita paparan zat saraf kimia yang merusak kesehatannya hingga ia harus dikeluarkan dari tentara.