Serangan Kelompok Militan Houthi yang Menargetkan Arab Saudi

Serangan Kelompok Militan Houthi yang Menargetkan Arab Saudi

Serangan Kelompok Militan Houthi yang Menargetkan Arab Saudi – Kelompok Hutsi sering ditulis Houthi, secara resmi bernama Anshar Allah adalah gerakan Islam politik-bersenjata yang muncul dari Sa’dah di  Yaman utara pada 1990-an. Mereka adalah dari sekte Syiah Zaidiyah, meskipun gerakan ini kabarnya juga termasuk Sunni. Di bawah kepemimpinan Husain Badruddin al-Hutsi, kelompok itu muncul sebagai oposisi Zaidi terhadap mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.

Yang mereka tuduh korupsi keuangan besar-besaran dan dikritik karena didukung oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat dengan mengorbankan rakyat Yaman dan kedaulatan Yaman. Menolak perintah Saleh untuk penangkapannya, Husein terbunuh di Sa’dah pada tahun 2004 bersama dengan sejumlah pengawalnya oleh tentara Yaman, yang memicu Pemberontakan Hutsi di Yaman. Sejak itu, kecuali untuk periode intervensi singkat, gerakan ini dipimpin oleh saudaranya Abdul-Malik al-Hutsi.

Juru bicara pasukan selatan Yaman Mohamed al-Naqeeb melaporkan, sedikitnya 30 tentara tewas dan 60 lainnya terluka akibat serangan Houthi yang menargetkan Download IDN Poker77 pangkalan militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Serangan itu terjadi di pangkalan militer al-Anad dengan rudal balistik yang diluncurkan melalui pesawat tak berawak atau drone. Rudal balistik dilaporkan mendarat di area pe4latihan, tempat puluhan tentara melakukan latihan pagi.

1. Jumlah korban tewas kemungkinan bertambah
30 Tentara Koalisi Saudi Tewas akibat Rudal Balistik Militan Houthi

Menurut Al-Naqeeb, jumlah korban tewas kemungkinan bertambah karena tim penyelamat masih melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian.

Petugas medis menggambarkan situasi yang kacau di pangkalan setelah ledakan. Para tentara membawa rekan-rekan mereka yang terluka ke tempat yang aman, khawatir ada serangan susulan.

Warga sekitar menyatakan beberapa ledakan keras terdengar di daerah itu. Penduduk lain dari pusat Kota Taiz, wilayah yang disengketakan, mengaku mendengar rudal balistik ditembakkan dari peluncur yang ditempatkan di pinggiran timur kota yang dikuasai Houthi.

Belum ada komentar langsung dari pihak pemberontak Houthi hingga saat ini.

2. Houthi pernah menyerang pangkalan al-Anad pada 2019
30 Tentara Koalisi Saudi Tewas akibat Rudal Balistik Militan Houthi

Pemerintah Yaman, didukung koalisi militer yang dipimpin Saudi, berseteru dengan Houthi yang didukung Iran sejak perang sipil 2014, ketika pemberontak beraliran Syiah itu berhasil merebut ibu kota Sanaa.

Koalisi negara-negara Teluk sejak Maret 2015 melakukan intervensi demi mengembalikan pemerintahan Abd-Rabbu Mansour Hadi. Sayangnya, konflik yang terus berlanjut telah menewaskan puluhan ribu orang dan menjadikannya sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Pada 2019, Houthi juga menyerang pangkalan militer al-Anad dengan drone selama parade militer. Petugas medis dan pemerintah menyatakan, setidaknya enam orang tewas dalam insiden itu, termasuk pejabat tinggi intelijen.

3. Serangan terjadi di tengah dialog yang mandek
30 Tentara Koalisi Saudi Tewas akibat Rudal Balistik Militan Houthi

Pangkalan al-Anad berjarak 60 kilometer dari utara Aden, kota yang menjadi markas besar pasukan Amerika Serikat (AS) dalam kepentingannya memerangi teroris Al-Qaida hingga 2014. Setelah itu, Aden dikuasai militan Houthi.

Kemudian, Aden berhasil direbut kembali oleh pasukan pemerintah pada Agustus 2015 berkat koalisi yang didukung Saudi.

Serangan kemarin terjadi ketika dialog damai antara koalisi Saudi dengan Houthi, yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa dan AS, terhenti, sebab kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.

Jika dialog damai berjalan lancar, koalisi internasional akan mencabut blokade di pelabuhan yang dikuasai Houthi dan bandara Sanaa, sebagai imbalan karena sepakat menerima gencatan senjata.

Gerakan Hutsi menarik pengikut Syiah Zaidi-nya di Yaman dengan mempromosikan isu-isu politik agama regional di medianya, termasuk  konspirasi AS-Israel dan “kolusi” Arab. Pada tahun 2003, slogan Hutsi “Allah Mahabesar, kematian bagi AS, kematian bagi Israel, kutukan orang Yahudi, dan kemenangan bagi Islam”, menjadi slogan kelompok itu. Petinggi Hutsi, bagaimanapun, telah menolak penafsiran harfiah dari slogan tersebut.

Sasaran-sasaran gerakan ini termasuk memerangi keterbelakangan ekonomi dan marginalisasi politik di Yaman sambil mencari otonomi yang lebih besar untuk wilayah mayoritas Houthi di negara itu. Mereka juga mengklaim mendukung republik non-sektarian yang lebih demokratis di Yaman. Kaum Hutsi telah menjadikan pemberantasan korupsi sebagai inti dari program politik mereka.