Taliban Ultimatum AS Tidak Campuri Pemerintahan Afghanistan

Taliban Ultimatum AS Tidak Campuri Pemerintahan Afghanistan

Taliban Ultimatum AS Tidak Campuri Pemerintahan Afghanistan – Amerika Serikat mengatakan pertemuan tatap muka pertama antara pejabat senior AS dan Taliban sejak kelompok garis keras itu merebut kembali kekuasaan di Afghanistan berlangsung secara “terus terang dan profesional”. Namun AS menegaskan, bahwa Taliban akan dinilai dari tindakan, bukan hanya kata-kata mereka. Kelompok Taliban mengultimatum Amerika Serikat untuk tidak lagi cawe-cawe dalam pemerintahan rezim baru di Afghanistan.

Hal itu disampaikan dalam pertemuan tatap muka antara delegasi Taliban dengan AS yang digelar, di Doha, Qatar. Ini menjadi pertemuan kali pertama untuk kedua belah pihak, usai AS resmi menarik semua pasukan militernya yang sudah bertugas di sana selama 20 tahun. Peringatan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri sementara Afghanistan, Mullah Amir Khan Muttaqi, ketika berbincang dengan delegasi AS. Muttaqi mengingatkan AS di tengah kekuasaan Taliban mulai digoyah oleh kelompok militan ISIS di Provinsi Korasan atau kerap disebut ISKP.

Stasiun berita Al Jazeera melaporkan, ISKP mengaku bertanggung jawab atas bom bunuh diri yang meledak di Masjid Islam Syiah pada 8 Oktober 2021 lalu. Akibat aksi keji itu, 62 orang tewas. Menurutnya, alih-alih melemahkan pemerintahan yang coba dibentuk oleh Taliban, Muttaqi mendorong agar AS menjalin hubungan baik dengan rezim yang kini berkuasa. Meski hingga kini, AS belum bersedia mengakui pemerintahan di Afghanistan yang dibentuk oleh Taliban.

1. Taliban minta AS cabut larangan dan cairkan aset milik Bank Sentral Afghanistan
Taliban ke AS: Jangan Ikut Campur Pemerintahan Afghanistan

Muttaqi mengatakan dalam pertemuan itu pihaknya meminta kepada delegasi AS untuk mencabut larangan yang diterapkan bagi Bank Sentral Afghanistan. Selain itu, dia juga meminta agar aset senilai Rp137 triliun milik Bank Sentral Afghanistan dicairkan.

“Pemerintahan Taliban membutuhkan dana itu untuk membayar gaji para pegawai dan memberikan layanan bagi warga Afghanistan,” demikian yang dilaporkan oleh jurnalis Al Jazeera, Natasha Gonenim.

Hingga saat ini belum ada pernyataan apapun dari Pemerintah AS terkait pertemuan dua pihak di Doha. Tetapi, ketika kesepakatan antara Taliban dan AS diteken pada 2020 lalu, Negeri Paman Sam meminta agar Taliban memutus hubungan dengan semua kelompok teroris.

AS pun meminta jaminan kepada Taliban agar tidak lagi menyembunyikan teroris yang dapat melakukan serangan ke Washington. AS tak ingin tragedi Osama Bin Laden kembali terulang.

Poin lain yang diduga menjadi tuntutan AS bagi Taliban yakni menuntut agar dibentuk pemerintahan yang bersifat inklusif. Selain itu, Taliban diminta untuk memberikan penghormatan terhadap hak-hak perempuan. Menurut pejabat berwenang, meski bersedia berdialog dengan Taliban pada Sabtu kemarin, bukan berarti AS telah mengakui pemerintahan Afghanistan sekarang.

2. AS perlu jaminan dari Taliban untuk pulangkan warganya yang masih terjebak di Afghanistan
Taliban ke AS: Jangan Ikut Campur Pemerintahan Afghanistan

Sementara, juru bicara Departemen Luar Negeri memastikan dalam pertemuan itu, AS meminta keamanan akses untuk memulangkan sejumlah warganya yang masih terjebak di Afghanistan. Selain itu, AS juga berniat membawa sejumlah warga Afghanistan dan warga asing lainnya.

Deplu AS menyebut saat ini masih terdapat sekitar 100 warga dan penduduk tetap di AS yang menanti agar dievakuasi dari Afghanistan. Taliban pun memberikan sinyal akan memberikan izin bagi AS mengevakuasi warganya.

3. Sekjen PBB minta otak di balik aksi bom bunuh diri Masjid Syiah diadili

Aksi bom bunuh diri yang terjadi di masjid Syiah pada Jumat pekan lalu, menuai kecaman dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres menyerukan agar otak di balik aksi keji itu segera dibawa ke pengadilan dan diproses hukum.

“Kami mengecam keras serangan mengerikan tersebut,” ungkap jubir Gutteres.

Sementara, menurut pimpinan keamanan Taliban di wilayah Kunduz, Mulawi Dost Muhammad, menuding aksi bom bunuh diri di masjid Syiah sengaja dilakukan untuk mengadu domba antara muslim Sunni dengan Syiah.

AS dan Taliban bertemu di Doha, Qatar, Sabtu dan Minggu, 9-10 Oktober 2021. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan delegasi AS pada pembicaraan berfokus pada masalah keamanan dan terorisme dan perjalanan yang aman bagi warga AS, warga negara asing lainnya dan warga Afghanistan, serta hak asasi manusia, termasuk partisipasi perempuan yang berarti.

Dan anak perempuan di semua aspek masyarakat Afghanistan. Dia mengatakan kedua belah pihak juga membahas “penyediaan bantuan kemanusiaan yang kuat dari Amerika Serikat, langsung kepada rakyat Afghanistan.”