Varian Covid19 Delta Plus AY.4.2 Telah Ditemukan di Malaysia

Varian Covid19 Delta Plus AY.4.2 Telah Ditemukan di Malaysia

Varian Covid19 Delta Plus AY.4.2 Telah Ditemukan di Malaysia – Varian Corona AY.4.2 atau ‘Delta Plus’ baru-baru ditemukan di Malaysia. Diketahui, virus tersebut ditemukan pada dua orang siswa yang baru pulang dari Inggris pada 2 Oktober 2021. Menteri Kesehatan RI turut mewaspadai soal masuknya varian yang disebut-sebut ganas tersebut ke tanah air.

Pemerintah Malaysia pada akhir pekan lalu resmi mengumumkan bahwa varian baru Delta yakni Delta AY.4.2 telah ditemukan di negaranya. Kementerian Kesehatan Malaysia mengumumkan, sudah ada dua kasus yang ditemukan. Varian baru Delta ini disebut menular 15 persen lebih cepat dibandingkan varian Delta sebelumnya. Dua kasus ini dibawa masuk oleh dua pelajar Malaysia yang baru kembali dari Inggris.

Direktur Jenderal Kemenkes Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan, kasus varian baru itu terdeteksi ketika kedua pelajar tersebut tiba di Bandara Kuala Lumpur Internasional (KLIA) pada 2 Oktober 2021 lalu. Kedua pelajar itu sebelumnya telah melakukan tes swab PCR dan dinyatakan negatif. Tetapi, ketika tes swab PCR kedua yang dilakukan saat karantina, mereka dinyatakan terinfeksi COVID-19 pada 7 Oktober 2021.

1. Antibodi yang terbentuk dari vaksin masih efektif melawan varian Delta Plus
Malaysia Laporkan 2 Kasus Corona Delta Plus, Apa Itu? Lebih Bahaya dari  Delta? Halaman all - Kompas.com

Menurut Noor, Badan Keselamatan Kesehatan Inggris pada 20 Oktober 2021 lalu tengah menyelidiki (VUI) varian Delta plus atau AY.4.2. Ia menyebut, vaksin yang digunakan saat ini masih efektif dalam menghadapi varian baru AY.4.2.

“Tindakan lain seperti karantina, tes, dan kebijakan lainnya tetap dilakukan untuk mengurangi risiko penularan di Malaysia, khususnya di pintu perbatasan kedatangan internasional,” ujar Noor.

“Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) akan tetap memantau dari dekat keberadaan varian Delta di masyarakat,” tutur dia lagi.

2. Pemerintah akan tambah 20 mesin genome sequencing, disebar ke seluruh wilayah Indonesia
Varian Delta Plus AY.4.2 Sudah Masuk Malaysia, Dibawa dari Inggris 

Laporan dari Malaysia itu membuat Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaannya. Apalagi lalu lintas orang Indonesia dari dan menuju ke Negeri Jiran tergolong tinggi.

Maka, salah satu strategi yang ditempuh oleh pemerintah yakni dengan meningkatkan aktivitas pengurutan genome atau genome sequencing. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah bakal menambah jumlah mesin untuk melakukan pengurutan genome, lalu mesin tersebut disebar ke beberapa wilayah di Indonesia. Tujuannya, agar pemerintah bisa lebih cepat mendeteksi keberadaan varian baru virus Sars-CoV-2.

“Saat ini (mesin genome sequencing) terkonsentrasi di Jawa dan membutuhkan kompetensi yang tinggi. Kami sudah dapat grant dan kami sudah putuskan untuk memberikan dua (mesin genome sequencing) masing-masing di area Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sumatra, Nusa Tenggara dan Bali,” Budi menuturkan.

Ia menyebut, mesin baru genome sequencing akan diberikan ke perguruan tinggi. Sebab, untuk melakukan aktivitas pengurutan genome membutuhkan kompetensi khusus.

“Membutuhkan ahli untuk mengoperasikannya dan umumnya saintis yang bisa,” ujarnya.

Budi berharap dengan disebarnya mesin untuk menganalisa genome, maka sampel pemeriksaan tes swab PCR tidak perlu dikirim lebih dulu ke Pulau Jawa.

3. Varian baru Delta Plus 15 persen menular lebih cepat dari varian Delta sebelumnya
Varian Delta Plus AY.4.2 Sudah Masuk Malaysia, Dibawa dari Inggris 

Sementara, Eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama (WHO) mengungkap, subvarian Delta AY.4.2 memiliki karakteristik penularan lebih cepat 10 hingga 15 persen dari varian Delta. Varian AY.4.2 yang menjadi kekhawatiran memicu peningkatan kasus COVID-19 di Inggris, belakangan juga dikhawatirkan berdampak pada efikasi vaksin COVID-19.

“Dari lima kemungkinan dampak, maka baru ada informasi tentang penularannya, yaitu bahwa AY.4.2 ini tampaknya sekitar 10 sampai 15 persen lebih menular,” kata Prof Tjandra dikutip dari kantor berita ANTARA beberapa waktu lalu.  Tjandra juga menyebut, sudah ada 26 ribu subvarian Delta AY.4.2 yang dilaporkan dari 42 negara. Namun, belum ada data apakah varian AY.4.2 memang berdampak pada efikasi vaksin.

“Kita tahu kalau ada varian baru virus SARS-CoV-2, maka selalu yang dibicarakan kemungkinan lima dampaknya, yaitu pada penularan, beratnya penyakit, kemungkinan infeksi ulang, dampak pada diagnosis, dan dampak pada vaksin,” kata dia.

Ia menegaskan, langkah-langkah pengetatan diupayakan di wilayah perbatasan Malaysia-Indonesia. Meski sejauh ini pihaknya bersyukur varian Delta Plus tak kunjung ditemukan di tanah air, Menkes menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko masuknya varian ini ke Indonesia.
Mengingat, varian ini disebut-sebut lebih ganas daripada varian yang ada sebelumnya, varian Delta.