Venezuela Ingin Berdialog Dengan Guyana Terkait Perbatasan

Venezuela Ingin Berdialog Dengan Guyana Terkait Perbatasan

Venezuela Ingin Berdialog Dengan Guyana Terkait Perbatasan – Venezuela  mencakup interaksi diplomatik, ekonomi, dan lainnya antara negara-negara tetangga Republik Koperasi Guyana dan Republik Bolivarian Venezuela. Pemerintah Venezuela menyerukan diadakannya dialog dengan Guyana terkait masalah perbatasan kedua negara.

Hal ini disebutkan setelah Presiden Guyana Irfaan Ali mengungkit masalah ini ke Majelis Umum PBB beberapa waktu lalu. Masalah perbatasan antara Venezuela-Guyana tengah memanas beberapa tahun belakangan ini. Bahkan pada awal tahun ini, nelayan Guyana ditangkap oleh militer Venezuela lantaran dianggap masuk wilayah maritimnya.

Beberapa waktu lalu, Venezuela juga menyerukan Guyana untuk meninggalkan keputusan Pengadilan Internasional dan menuduh perusahaan minyak yang melakukan eksplorasi di lepas pantai Guyana akan memperburuk hubungan dua negara.

1. Venezuela sebut adanya misinterpretasi dari Guyana
Venezuela Ajak Guyana Berdialog Soal Masalah Klaim Teritori

Seruan untuk mengadakan diskusi dari Pemerintah Venezuela terkait dugaan misinterpretasi dari pihak Georgetown mengenai masalah perbatasan kedua negara yang sudah berlangsung ratusan tahun silam.

“Kita tidak boleh melupakan bahwa permasalahan ini merepresentasikan warisan kolonial Inggris kepada negara muda itu dari proses dekolonisasi. Suka maupun tidak, ini harus diselesaikan secara damai, persahabatan, disetujui oleh kedua pihak, sebagai bagian untuk mendukung Perjanjian Jenewa dan preambulenya.

Maka tujuan dari ini untuk mencapai kesepakatan secara praktis dan kepuasan dalam masalah perebutan teritori” sesuai dengan keterangan Pemerintah Venezuela. Ungkapan dari Venezuela ini datang kurang dari 24 jam setelah adanya protes dari Presiden Irfaan Ali dalam Majelis Umum PBB terkait permasalahan ini yang mengancam integritas dan kedaulatan teritori Guyana, dilansir dari Jamaica Gleaner.

2. Presiden Irfaan Ali kecam ancaman Venezuela di Majelis Umum PBB
Venezuela Ajak Guyana Berdialog Soal Masalah Klaim Teritori

Pada Kamis (23/9/2021) Presiden Guyana Irfaan Ali mengungkapkan dalam Majelis Umum PBB terkait pemerintahannya akan menanggapi dengan baik permasalahan klaim teritori perbatasan. Bahkan akan berupaya menyelesaikan masalah dengan Venezuela lewat jalur damai.

“Guyana tidak bisa dijadikan sebagai altar untuk pengorbanan terkait pendudukan perbedaan politik internal Venezuela. Keduanya sudah seharusnya mematuhi perbatasan yang ditetapkan oleh Pengadilan Internasional” tambah Ali.

“Baru-baru ini, persetujuan internal Venezuela yang digelar di Mexico City kembali memperbarui klaim dari dua per tiga wilayah Guyana. Kami akan merespon dengan maksud baik. Dan saya ulangi kembali, kita merespon sekarang di ruang terhormat ini, di mana seluruh negara di dunia bertemu dalam kooperasi dan perdamaian” ujar Ali.

Venezuela diketahui telah mengklaim 70 persen teritori Guyana di sebelah barat Sungai Essequibo. Bahkan wilayah klaim tersebut termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) milik Guyana yang dipercaya kaya minyak dan gas, bernama Blok Stabroek, dilaporkan dari laman Jamaica Gleaner.

3. Maduro dan oposisi Venezuela sepakat soal klaim teritori Guyana

Dikutip dari Jamaica Observer, sesuai dengan negosiasi antara pemerintahan dan oposisi Venezuela yang sudah berlangsung satu minggu di Mexico City menghasilkan dua kesepakatan. Dua hal tersebut mengenai pandemik COVID-19 dan ketersediaan vaksin serta klaim dua per tiga teritori Guyana.

Meskipun klaim tersebut menjadi pemersatu kedua pandangan politik berseberangan di Venezuela, tetapi tetap belum mendapatkan persetujuan oleh komunitas global maupun hukum internasional.

Pasalnya, klaim yang diberikan menyusul berbagai agresi yang selama ini dilakukan Venezuela untuk melawan Guyana. Sudah beberapa kali kapal AL Venezuela menghadang dan menahan kapal barang Guyana, serta adanya pesawat militer yang melintasi wilayah udara Guyana. Selain itu, tak jarang geng asal Venezuela melakukan penambangan ilegal dan melindungi pekerja ilegal yang beroperasi di teritori Guyana.

Sedangkan klaim yang diberikan Caracas mendasar pada perjanjian masa kolonial Spanyol dan Belanda sejak ratusan tahun lalu. Perjanjian itu menyebutkan apabila wilayah Spanyol dibatasi oleh Sungai Essequibo, tapi hal tersebut berlanjut hingga masa kolonial Inggris di Guyana.

Under intense diplomatic pressure, Venezuela agreed in 1970 to a 12-year moratorium on the dispute with the Protocol of Port-of-Spain. In 1981, Venezuela refused to renew the protocol. However, with changes to the governments of both countries, relations improved, to the extent that Venezuela sponsored Guyana’s 1990 bid for OAS membership.

In 2013 the Venezuelan navy seized an oil exploration vessel operating in disputed waters claimed as Exclusive Economic Zones by both Venezuela and Guyana. In taking the case to the ICJ, Guyana looks to authorize the division of the area with Venezuela. The zone at issue is west of Guyana’s Essequibo River. The disclosure of oil off the coast has started a discussion among Guyana and Venezuela over the border itself with both area claiming the area.