Warga Jepang Berdemo Karena Menolak Pernikahan Putri Mako

Warga Jepang Berdemo Karena Menolak Pernikahan Putri Mako

Warga Jepang Berdemo Karena Menolak Pernikahan Putri Mako –  Putri Mako, keponakan Kaisar Jepang Naruhito, resmi menikah dengan tunangannya, Kei Komuro, pada Selasa, 26 Oktober 2021. Pernikahan ini menjadi pembicaraan media Jepang karena dianggap kontroversi.

Dalam aturan Kekaisaran Jepang, pernikahan ini membuat sang putri menjadi warga negara biasa, karena anggota keluarga kekaisaran wanita kehilangan status kerajaan mereka setelah menikah dengan orang biasa. Warga Jepang melakukan unjuk rasa menolak pernikahan Putri Mako dari Kekaisaran Jepang dengan Kei Komuro, kekasihnya yang hanya rakyat biasa.

Para demonstran tersebut turun ke jalan-jalan di ibu kota Tokyo, menyerukan kekhawatiran mereka tentang masa depan Jepang dan Keluarga Kerajaan. Mereka membawa papan yang berisi tulisan kritik terhadap pernikahan tersebut. Menurut surat kabar Inggris ada lebih dari 100 pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Tokyo menentang pernikahan tersebut.

1. Pernikahan Putri Mako dan Kei Komuro
Warga Jepang Demo Tolak Pernikahan Putri Mako dengan Rakyat Biasa

Putri Mako telah menikahi Kei Komuro, kekasihnya sejak di bangku kuliah, pada Selasa, dan karenanya kehilangan status kerajaannya. Mereka menikah di pagi hari setelah seorang pejabat dari Badan Rumah Tangga Kekaisaran (IHA), yang menjalankan kehidupan keluarga, menyerahkan dokumen ke kantor setempat untuk mendaftarkan pernikahan mereka.

Di bawah hukum Jepang, anggota keluarga kekaisaran perempuan akan kehilangan status mereka setelah menikah dengan “orang biasa”. Namun, anggota keluarga kekaisaran laki-laki tidak akan kehilangan status mereka jika melakukan pernikahan serupa.

Putri Mako juga dikabarkan melewatkan ritual pernikahan kerajaan yang biasa dilakukan, termasuk resepsi. Ia juga menolak pembayaran satu kali sekitar 1,3 juta dolar AS, yang biasanya harus dibayarkan perempuan kerajaan yang meninggalkan keluarga kekaisaran setelah menikah.

2. Permasalahan seputar pernikahan Putri Mako dan Kei Komuro
Putri Mako akan Menikah di Bawah Bayangan Trauma | Republika Online

Pasangan yang dijuluki ‘Harry dan Meghan Jepang’ itu telah menghadapi pengawasan media yang ketat sejak menjadi pasangan kekasih di universitas. Putri Mako bahkan pernah didiagnosis dengan gangguan stres pascatrauma dalam hubungan mereka.

Mereka sebenarnya telah mengumumkan pertunangan pada 2017 dan Jepang awalnya menyambut baik kabar tersebut. Namun, segalanya berubah ketika tabloid melaporkan skandal uang yang melibatkan ibu Komuro. Pers dan suasana publik kemudian berbalik menentang Komuro dan pernikahan ditunda.

Putri Mako kemudian meninggalkan Jepang untuk belajar hukum di New York pada 2018 dan baru kembali bulan lalu. Tapi setelah pernikahan, Putri Mako akan kembali pindah ke New York dengan suaminya. Mako telah mengajukan paspor pertama dalam hidupnya.

3. Pernyataan Putri Mako
Warga Jepang Demo Tolak Pernikahan Putri Mako dengan Rakyat Biasa

Setelah pernikahan dilangsungkan pada Selasa, pasangan yang sama-sama berusia 30 tahun itu menggelar konferensi pers pertama mereka sebagai suami-istri. Dalam kesempatan itu Mako mengatakan bahwa laporan berita yang ‘salah’ tentang Komuro telah menyebabkan kesedihan, stres, dan ketakutannya yang luar biasa.

“Saya mengerti ada berbagai pemikiran tentang pernikahan saya dengan Kei,” kata Mako. “Saya sangat menyesal kepada orang-orang yang memiliki masalah (dengan pernikahan kami).” Sementara itu Komuro, selama konferensi pers, mengatakan dia mencintai Mako dan berjanji untuk mendukung dan melindunginya.

Putri Mako yang kini dikenal sebagai sebagai Mako Komuro adalah anak pertama dari adik kaisar saat ini, Pangeran Akishino, dan istrinya, Putri Kiko. Cucu pertama mantan Kaisar Jepang Akihito ini lahir pada 23 Oktober 1991. Dia diberi nama Mako, menampilkan karakter Cina “Ma” yang berarti “benar” atau “alami”, karena ayahnya berharap dia akan menjalani kehidupan yang sederhana dengan tetap setia pada dirinya sendiri.

Awalnya, Mako mengikuti tradisi kerajaan dan bersekolah di sekolah elit Gakushuin, tempat anggota keluarga kekaisaran biasanya belajar. Tapi dia dianggap melanggar kebiasaan dengan meninggalkan institusi untuk studi universitasnya. Mako kuliah di Universitas Kristen Internasional Tokyo, jurusan seni dan warisan budaya, dan menghabiskan satu tahun di Universitas Edinburgh. Kemudian, dia mendapatkan gelar master di University of Leicester. Belajar di luar negeri adalah pengalaman yang luar biasa bagi dia.