Wilayah Afrika Menghadapi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Wilayah Afrika Menghadapi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Wilayah Afrika Menghadapi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Wilayah Afrika Menghadapi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim – Perubahan iklim adalah perubahan pola dan intensitas unsur iklim dalam periode waktu yang sangat lama. Bentuk perubahan berkaitan dengan perubahan kebiasaan  cuaca atau perubahan persebaran kejadian cuaca. Penyebab utama terjadinya perubahan iklim yaitu pemanasan global.

Percepatan pemanasan global merupakan akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer Bumi yang mengubah peran dari efek rumah kaca. Wilayah Tanduk Afrika, yang mencakup Somalia, Kenya, dan Ethiopia,  terancam menghadapi kekeringan akibat perubahan iklim. Masyarakat berusaha untuk menjaga diri terutama bagi para penggembala untuk menyediakan pasokan air yang cukup.

Di wilayah Somalia dan Ethiopia, hujan tidak pernah turun selama 3 musim berturut-turut. Kekeringan sering terjadi dalam beberapa tahun, namun seorang penduduk menuturkan belum pernah melihat yang separah ini.

Kekeringan akan berdampak pada darurat pangan 

Hujan Tak Turun 3 Musim, Jutaan Warga Tanduk Afrika Krisis Air

Menurut laporan observasi NASA, kekeringan dikhawatirkan akan memicu darurat pangan terparah sejak 35 tahun. Perubahan iklim dan fenomena La Nina di Samudera Pasifik berdampak pada kekeringan yang terjadi di Afrika, mengutip DW.

Negara-negara di wilayah Tanduk Afrika diperingatkan untuk bersiap menghadapi kelangkaan pangan hingga musim hujan berikutnya.

Di kawasan Somalia dan Ethiopia, penduduk yang kebanyakan merupakan penggembala harus berusaha memitigasi dampak dari cuaca ekstrem ini.

Jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan 

Hujan Tak Turun 3 Musim, Jutaan Warga Tanduk Afrika Krisis Air

Dilansir Africanews, seorang penduduk mengatakan, pemerintah telah mendistribusikan makanan dan pakan ternak selama kekeringan dalam lima tahun terakhir. Namun kali ini, mereka tidak punya cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Lebih dari 6 juta orang di Ethiopia diperkirakan membutuhkan bantuan kemanusiaan secepatnya pada pertengahan Maret, kata UNICEF pada Selasa (2/2/2022). Sementara di Somalia, lebih dari 7 juta penduduk juga membutuhkan bantuan.

Konsorsium LSM Somalia dalam pernyataan terpisah memohon kepada para pendonor untuk memberi bantuan yang lebih banyak.

PBB serukan pencarian sumber air 

Hujan Tak Turun 3 Musim, Jutaan Warga Tanduk Afrika Krisis Air

UNICEF memperkirakan bahwa lebih dari 150 ribu anak-anak di daerah seperti di Ethiopia telah putus sekolah, untuk membantu mengambil air yang langka dan menangani tugas-tugas lainnya.

Perwakilan UNICEF di Ethiopia mengatakan, saat briefing PBB di Jenewa melalui konferensi video pada Selasa, bahwa beberapa sumber air sudah kering dan menunjukkan perlunya merehabilitasi sumur, mengebor, dan mendapatkan air untuk sistem kesehatan dan nutrisi.

Mereka mengatakan, konflik pemerintah Ethiopia dengan pejuang dari wilayah Tigray utara negara itu tidak berdampak pada tanggapan UNICEF terhadap daerah yang dilanda kekeringan ratusan kilometer ke arah tenggara.

Aktivitas manusia juga dapat mengubah iklim bumi, dan saat ini mendorong perubahan iklim melalui pemanasan global. Tidak ada kesepakatan umum dalam dokumen ilmiah, media, atau kebijakan mengenai istilah yang tepat untuk digunakan merujuk pada antropogenik perubahan yang dipaksakan; baik “pemanasan global” atau “perubahan iklim” dapat digunakan.

Perubahan iklim akan berdampak kepada peningkatan tinggi permukaan air laut, meningkatnya jumlah bencana alam, pergeseran rentang geografis, dan kerusakan ekosistem. Dampak perubahan iklim akan dirasakan oleh manusia, hewan, tumbuhan, maupun mikroorganisme. Perumbahan iklim akan memberi dampak di lautan, daratan maupun di lapisan udara.